Impor minyak mentah pada Juli 2025 mencapai US$786 juta, membengkak 34,92% secara bulanan. Adapun, impor hasil minyak turut naik 5,38% secara bulanan menjadi US$1,72 miliar pada Juli.
Secara kumulatif, impor minyak mentah Januari—Juli 2025 mencapai US$4,96 miliar, turun 21,07% dari rentang yang sama tahun lalu. Impor hasil minyak Januari—Juli US$13,41 miliar, juga turun 12,20% secara tahunan.
Ditolak Pertamina
Lebih lanjut, Purbaya menuturkan, dirinya sebenarnya sudah pernah meminta Pertamina untuk membangun kilang baru sejak bertugas di Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi pada 2018.
Bahkan, dia membeberkan, sempat menawarkan Pertamina untuk bekerja sama dengan perusahaan China untuk membangun kilang di dalam negeri. Hanya saja, menurut dia, tawaran itu ditolak Pertamina.
“Pertamina bilang keberatan dengan usul tersebut karena sudah overkapasitas. Waktu itu saya kaget, 'overkapasitas apa?'” ujarnya.
Adapun, Pertamina mengendalikan bisnis penyulingan minyak lewat anak usahanya, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI).
Saat ini, KPI mengoperasikan 6 kilang dengan kapasitas pengolahan mencapai 1 juta barel per hari.
Sejumlah kilang itu termasuk refinery unit (RU) II Dumai dengan kapasitas 170 MBPOD, RU III Plaju berkapasitas 126 MBPOD, RU IV Cilacap berkapasitas 348 MBPOD, RU V Balikpapan berkapasitas 360 MBPOD, RU VI Balongan berkapasitas 150 MBPOD, dan RU VII Kasim berkapasitas 10 MBPOD.
Menurut Purbaya, minimnya investasi kilang dari Pertamina itu ikut menekan belanja subsidi dan kompensasi energi pemerintah setiap tahunnya.
Adapun, Kementerian Keuangan melaporkan realisasi subsidi dan kompensasi BBM, LPG hingga listrik mencapai Rp218 triliun per Agustus 2025, lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi sepanjang 2024 sebesar Rp208,4 triliun.
Purbaya mengatakan lonjakan itu disebabkan karena meningkatnya realisasi subsidi BBM menjadi 10,63 juta kiloliter atau naik 3,5% dibandingkan 2024 sebesar 10,28 juta kl.
"Realisasi Subsidi dan kompensasi hingga Agustus 2025 mencapai Rp218 triliun, dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak mentah, depresiasi nilai tukar dan pertumbuhan volume konsumsi barang bersubsidi," kata Purbaya.
Selain itu, Purbaya mengatakan, realisasi konsumsi liquified petroleum gas (LPG) atau tabung gas melon 3 kilogram (kg) juga mengalami lonjakan sebesar 3,6% menjadi 4,91 juta kg dibandingkan 2024 sebesar 4,74 kg.
Kemudian, penyaluran listrik bersubsidi juga naik 3,8% menjadi 42,4 juta pelanggan dibandingkan dengan 40,9 juta pelanggaran pada 2024.
(naw/wdh)





























