Logo Bloomberg Technoz

Aktivitas operasional juga kembali stabil, memungkinkan Nayara tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik lewat lebih dari 6.500 SPBU, tetapi juga membangun kembali jaringan ekspor dengan bantuan fasilitas penyimpanan terapung dan armada kapal, termasuk yang terkena sanksi, menurut data pelacakan kapal Bloomberg.

Hindustan Petroleum Corp. disebut menambah pembelian produk dari Nayara, kata seorang pejabat pemerintah.

Kapasitas kilang di Vadinar kini mencapai 75% dan terus meningkat. Kilang yang sebelumnya mengandalkan pasokan minyak dari Arab Saudi, Irak, dan Rusia, kini lebih banyak beroperasi dengan minyak mentah Ural Rusia ditambah sedikit pasokan domestik, ujar sumber.

“Kilang kami tetap beroperasi normal dan aktif memenuhi permintaan pasar domestik,” kata Nayara dalam pernyataan Senin (29/9), seraya menambahkan pihaknya tengah “mengeksplorasi opsi ekspor setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi.”

Pengumuman sanksi Uni Eropa pada Juli lalu oleh Kepala Kebijakan Luar Negeri Kaja Kallas melalui platform X menjadi pukulan mendadak bagi Nayara.

Manajemen terguncang, akses perangkat lunak dasar yang bergantung pada penyedia Barat seperti Microsoft Corp. ikut terhenti.

Sebanyak 11 anggota dewan, termasuk CEO Alessandro Des Dorides dan anggota lain asal Uni Eropa, langsung mengundurkan diri.

Krisis makin parah setelah penyedia kapal seperti Great Eastern Shipping Co. membatalkan kontrak, menyusul klub asuransi P&I yang didukung Uni Eropa menarik jaminan. Perbankan juga memperburuk keadaan.

Meski mulai pulih, masalah Nayara belum selesai. SBI dan kreditur besar lain yang punya eksposur internasional hanya mendukung pembayaran domestik dalam rupee, ujar sumber.

Ekspor September diperkirakan hanya 2,2 juta barel, kurang dari separuh volume tahun lalu ketika akses ke pasar Barat masih terbuka, menurut data Kpler.

Lebih dari separuh kargo yang sudah dimuat di pelabuhan Vadinar kini menganggur atau terlibat transfer kapal-ke-kapal di dekat Sohar, Oman.

Sebagian produk disimpan di kapal tanker di laut. Data pelacakan menunjukkan sedikitnya empat kapal penyimpanan terapung di perairan Sohar telah menerima hampir 130.000 ton sejak akhir Agustus.

Wu Tai, kapal pertama yang menerima kargo Nayara, sebelumnya dikelola Gatik Ship Management di Mumbai, perusahaan yang muncul dengan armada besar pasca invasi Rusia ke Ukraina 2022. Kapal ini kini dikelola Yue Liang Hu Shipmanagement Shanghai, dan kembali menerima kargo dari tanker Varg pada akhir September.

Blue Talu, yang awal September mengangkut solar produksi Nayara, juga pernah dikelola Gatik pada 2023 sebelum berganti manajemen.

“Permintaan domestik India yang besar menjadi bantalan kuat bagi kilang,” kata Vandana Hari, pendiri firma analisis Vanda Insights.

Dengan kilang Nayara mampu beroperasi penuh dengan minyak Rusia, pasokan bahan baku tak jadi masalah, sementara ekspor rendah bisa diimbangi dengan menurunkan kapasitas dan mengalihkan produk ke pasar dalam negeri, tambahnya.

Untuk menjamin pasokan ke depan, Nayara juga menjajaki pembelian kembali dari Arab Saudi dan Irak. Perusahaan berupaya meyakinkan penjual bahwa tanpa sanksi AS, risikonya minimal, dan berharap pengiriman bisa kembali dalam hitungan minggu.

“Apapun dinamika geopolitik, sektor kilang India punya ketahanan untuk terus beroperasi di atas 100% kapasitas,” kata Chairman Nayara, Prasad Panicker, dalam konferensi energi di New Delhi bulan ini.

Kementerian Minyak India, HPCL, maupun SBI belum menanggapi permintaan komentar Bloomberg.

(bbn)

No more pages