"Kami follow up, kalau ada laporan kami tindak. Setelah ramai pada 14 September, semua tim diturunkan dan menemukan case-case itu. Jadi, sebagian memang tidak terekspos media," kata Nanik di Kantor BGN, Jumat (26/9/2025).
Ia juga mengaku ada penutupan 40 dapur penyedia MBG yang dinilai bermasalah. Beberapa lokasi dapur yang ditutup antara lain di Kabupaten Banggai (Sulawesi Tengah), Cipongkor dan Cihampelas (Bandung Barat), Sukabumi (Jawa Barat), dan Mamuju (Sulawesi Barat).
Menurut Nanik, sekolah yang terdampak tetap mendapat suplai makanan dari dapur terdekat. "Kalau ada dapur yang ditutup, anak-anak tidak masalah karena akan diambil dari dapur lain di sekitar situ. Tinggal nanti kami tanya, mau terus atau tunggu dapurnya diperbaiki," jelasnya.
Nanik menambahkan bahwa kapasitas dapur MBG sebenarnya bisa mencapai 5.000 hingga 6.000 porsi per hari dengan peralatan modern. Karena itu, beban tambahan akibat penutupan dapur bisa ditangani.
"Sebetulnya dapur ini bisa saja membuat 5.000, 6.000 [porsi makan] karena kan sudah memakai peralatan yang bagus, misalnya steam rice bisa masak 1.000 sekali jalan," ujarnya.
Untuk mempercepat penanganan keluhan masyarakat, BGN menyiapkan hotline khusus yang akan diluncurkan dalam waktu dekat.
"Hotline ini untuk orangtua, masyarakat, bahkan wartawan bisa melapor apa pun yang terjadi di lapangan. Sementara sebelum hotline aktif, laporan bisa disampaikan lewat situs bgn.lapor.go.id atau media sosial resmi kami," tutur Nanik.
Menjawab pertanyaan soal penyebab keracunan, Nanik mengatakan insiden ini lebih tepat dikategorikan sebagai kelalaian.
"Kalau saya sudah ngaku salahnya berarti kelalaian. Kalau kesengajaan tidak usah saya omongkan, nanti tambah ramai. Lebih baik kami akui dan perbaiki," tegasnya.
BGN menegaskan investigasi dan pengawasan distribusi MBG akan diperketat untuk menekan risiko kejadian serupa di kemudian hari. Meski program MBG masih berjalan, BGN menyatakan komitmennya untuk memperbaiki tata kelola dapur dan meningkatkan standar keamanan pangan agar kasus keracunan massal tidak terus berulang.
(dec/ros)































