Menanggapi isu yang mencuat, Society for Maternal-Fetal Medicine (SMFM) mengeluarkan pernyataan resmi. Mereka menegaskan, “SMFM tetap pada rekomendasinya bahwa penggunaan asetaminofen selama kehamilan tidak terbukti menyebabkan atau meningkatkan risiko autisme maupun masalah neuroperilaku lainnya pada anak. Asetaminofen tetap merupakan obat yang sesuai untuk mengatasi rasa sakit dan demam selama kehamilan.”
SMFM juga menyampaikan bahwa meskipun ada penelitian yang menyarankan potensi kaitan antara penggunaan asetaminofen selama kehamilan dengan autisme atau ADHD, belum ditemukan hubungan sebab-akibat yang pasti.
Mereka mendukung penelitian lanjutan yang melibatkan pasien hamil untuk memahami penyebab potensial dari disabilitas perkembangan saraf pada anak.
Dr. Liva menekankan, demam yang tidak ditangani pada ibu hamil justru dapat membahayakan janin. Oleh karena itu, penggunaan parasetamol sesuai dosis tetap lebih aman dibanding membiarkan kondisi ibu tidak tertangani. “Kami pastikan, bila digunakan dengan benar, parasetamol tetap aman,” tegasnya.
Dengan adanya penjelasan dari dokter kandungan dan SMFM, diharapkan para ibu hamil dapat lebih tenang menggunakan parasetamol bila diperlukan, tentunya di bawah pengawasan tenaga medis, dan tidak terpengaruh informasi keliru yang beredar di publik.
(dec/spt)































