Dia menambahkan pemerintah telah bergerak cepat untuk memastikan payung hukum kebijakan tersebut segera terbit. Aturan itu nantinya akan dituangkan langsung dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag).
“Langsung Pak Mendag kami komunikasi, juga kami sudah lapor ke Pak Menko Pangan [Zulkifli Hasan] dan Menko Ekonomi [Airlangga Hartarto], mudah-mudahan hari ini keluar [lartasnya], paling lambat Senin atau Selasa [Permendag diterbitkan],” jelasnya.
Saat ditanya apakah aturan lama dalam Permendag Nomor 16 Tahun 2025 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor akan direvisi, Amran hanya menjawab singkat,
“Nanti tunggu saja.”
Adapun terkait isu adanya pabrik gula yang sempat terdampak, Amran menjelaskan persoalan tersebut bukan pada operasional pabrik, melainkan harga tetes tebu yang turun akibat masuknya etanol impor.
“Gula ini sudah dibeli atas persetujuan Bapak Presiden, diberikan dana dari Danantara Rp1,5 triliun membeli gulanya petani. Hanya saja, tetes tebu harganya turun karena ada etanol masuk dari luar negeri. Sehingga tangkinya mungkin full. Pabrik itu biasa bermasalah [kalau tetes tebu luber], tapi enggak lah [nggak sampai tutup]. [Persoalannya] ini selesai,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Fatchuddin Rosyidi mengatakan harga tetes tebu yang sebelumnya stabil di kisaran Rp2.000/kilogram (kg). Dampak adanya impor etanol, kini harga tetes tebu tertekan hingga Rp900/kg.
“Rp2.000/kg harga tetes, sekarang sudah turun ke Rp900/kg,” kata Fatchuddin Rosyidi.
Sebelumnya, Asosiasi Produsen Spiritus dan Etanol Indonesia (Apsendo) menyatakan pelaku industri menahan pembelian molase dari petani dan pabrik gula yang mengakibatkan harga molase di petani anjlok. Saat ini harga tetes tebu turun menjadi Rp1.000/kg dari sebelumnya Rp2.500/kg–Rp3.000/kg.
Ketua Umum Apsendo Izmirta Rachman mengungkapkan alasan industri etanol yang menahan pembelian tetes tebu tersebut lantaran khawatir terjadi banjir impor yang mengancam kelangsungan industri etanol nasional, imbas adanya pemberlakuan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 16 Tahun 2025 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor (Permendag 16/2025).
Menurutnya, beleid itu telah menghapus ketentuan wajib persetujuan impor (PI) untuk sejumlah komoditas, termasuk etanol dan bahan bakunya. Alhasil, industri etanol tak berani menyerap molase dari petani lantaran pasar dibanjiri etanol impor murah imbas Permendag 16/2025.
“Kami takut dengan banjirnya impor dari luar negeri. Karena nanti siapapun bisa mengimpor. Nanti semua pembeli etanol kami, industri farmasi, obat-obatan, kosmetik, akan langsung impor dari luar negeri. Karena nggak ada lagi PI. Setiap orang bisa impor,” tutur Izmirta saat ditemui seusai Seminar Ekosistem Gula Nasional, Rabu (27/8/2025).
Harga Tapioka Turun
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan harga tepung tapioka anjlok di tingkat dunia imbas masuknya impor komoditas tersebut yang menekan harga singkong di Provinsi Lampung dan seluruh Indonesia. Provinsi Lampung sendiri merupakan produsen ubi kayu nasional dengan porsi sebanyak 70%.
“Ini menyebabkan petani di seluruh Indonesia untuk singkong mengeluh. Ini sudah dikeluhkan berbulan-bulan dan alhamdulillah ditanggapi oleh Pak Menteri Pertanian juga melalui Pak Presiden untuk segera menutup lartas harga tepung tapioka dari luar,” ujarnya.
Di sisi lain, dia juga meminta agar harga eceran tertinggi (HET) tepung tapioka diberlakukan sehingga suplai rantai dagang komoditas tersebut dapat terkendali dan menguntungkan petani.
Ketua Umum Perkumpulan Ubi Kayu Indonesia Dasrul Aswin menambahkan permasalahan utama yang dihadapi para petani yakni harga jual ubi kayu yang sangat rendah atau hanya sekitar Rp600-700/kg di bawah biaya yang dikeluarkan petani sekitar Rp739/kg.
“[harga singkong harusnya] Rp1.350/kg, potongan 60%. [sekarang] biaya produksi Rp739/kg. Rugi, coba kamu hitung,” imbuhnya.
(ain)
































