Logo Bloomberg Technoz

Tri menjelaskan, akibat longsor tersebut, saat ini tambang GBC berhenti beroperasional dan Freeport hanya bisa berproduksi dengan kapasitas 30% dari total kemampuan tambang.

Tri memastikan proses evakuasi tujuh pekerja yang terjebak di areal tambang bawah tanah tersebut masih berlanjut hingga siang hari ini. Saat ini, tim evakuasi berupaya mengeluarkan material longsor yang menutup akses menuju tambang GBC.

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan kementeriannya tidak bakal melakukan evaluasi terkait dengan kemungkinan perpanjangan ekspor konsentrat tembaga dari PTFI tersebut.

Di sisi lain, Bahlil mengatakan, operasional smelter PT Smelting telah berangsur pulih dengan kapasitas produksi mencapai 70%—80% per akhir Agustus.

Smelter milik PTFI itu sempat terbakar pada Oktober 2024 lalu yang membuat kapasitas pengolahan konsentrat tidak optimal sampai saat ini.

“Sudah 70%—80%, sudah maksimum,” kata Bahlil.

Di tempat terpisah, Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan perseroannya masih menunggu evaluasi yang akan dilakukan Kementerian ESDM terkait dengan kelanjutan ekspor konsentrat tersebut.

Menurut Tony, relaksasi ekspor yang akan berakhir pada 16 September 2025 itu mesti mendapat evaluasi dari Ditjen Minerba Kementerian ESDM terkait dengan kelanjutan kebijakan ekspor PTFI nantinya.

“Jadi sesuai dengan kepmen [keputusan menteri], memang akan dievaluasi pada saat mau berakhirnya. Itu yang kita tunggu hasil evaluasi dari pemerintah,” kata Tony ditemui, Rabu (27/8/2025).

Kendati demikan, Tony menargetkan, PTFI bisa mengoptimalkan ekspor konsentrat mencapai sekitar 90% dari kuota yang diberikan sebelum tenggat izin berakhir.

Saat ini, dia menuturkan, terdapat sejumlah kapal yang mengantre untuk mengangkut konsentrat tembaga perseroan untuk pasar ekspor.

“Mudah-mudahan cuacanya bagus sehingga loading-nya lancar untuk kemudian diekspor. Jadi harapannya di 16 September bisa tercapai kira-kira 90%,” tegas dia.

(azr/wdh)

No more pages