Logo Bloomberg Technoz

DPR Kritik BI Soal Rupiah: Tak Jaga Stabilitas Cuma Redam Gejolak

Mis Fransiska Dewi
17 June 2026 13:11

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman saat konferensi pers RDG Bulan Mei 2024 di Jakarta, Rabu (22/5/2024). (Dimas Ardian/Bloomberg)
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman saat konferensi pers RDG Bulan Mei 2024 di Jakarta, Rabu (22/5/2024). (Dimas Ardian/Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Anggota Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (Banggar DPR) Dolfie Othniel Fredric mengkritik Bank Indonesia (BI) selama ini bukan mengendalikan nilai tukar rupiah dengan menjaga stabilitas moneter, melainkan hanya mengendalikan gejolak dengan level pelemahan plus-minus 5%. 

“Kalau plus minus 5% berlangsung selama 5 tahun, sudah 25% dia terdepresiasi. Kalau 10 tahun, 50% [depresiasi]. Kalau kita bandingkan nilai tukar rupiah kita 10 tahun yang lalu dengan sekarang cocok polanya karena BI menggunakan teori mengendalikan gejolak plus minus 5%,” kata Dolfie dalam rapat bersama Badan Anggaran DPR RI, Rabu (17/6/2026). 

Politikus PDI Perjuangan itu menegaskan BI perlu membuat kebijakan moneter agar rupiah bisa selaras dengan nilai fundamental ekonominya bukan pengendalian gejolak yang terjadi. Dolfie menyebut jika bank sentral hanya mengendalikan gejolak, akan ada pihak-pihak yang diuntungkan dan dirugikan. 


“Kalau [depresiasi] 5% ini berlangsung selama 5 tahun, [maka] bisa terdepresiasi 25%. Ada pihak yang diuntungkan,” ucap dia. 

Menanggapi hal itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Aida S. Budiman menepis anggapan Anggota DPR yang menyebut kebijakan moneter, khususnya mengenai nilai tukar rupiah, hanya mengendalikan gejolak ekonomi, bukan menyelaraskan dengan nilai fundamental.