Logo Bloomberg Technoz

Menurutnya, GERD adalah kondisi naiknya kembali isi lambung ke kerongkongan, yang dapat menimbulkan berbagai keluhan.

“GERD itu sebetulnya satu kondisi baliknya lagi isi lambung, apa pun itu makanan, asam lambung, melewati esofagus atau kerongkongan sehingga bisa menimbulkan muntah,” jelas dr. Dedy.

Ia menambahkan, dinding kerongkongan tidak dirancang untuk menahan sifat asam dari cairan lambung, sehingga naiknya asam lambung dapat menimbulkan efek merusak. Salah satu kelompok yang paling berisiko mengalami GERD, menurutnya, adalah mereka yang memiliki gaya hidup kurang aktif, terutama anak-anak dengan obesitas.

"Anak-anak obesitas itu cukup tinggi kejadiannya. Kenapa? Karena dia makannya cenderung banyak, diiklankan, dan itu akan memicu terjadinya refluks," paparnya.

Gaya hidup sedentari atau malas gerak (mager) memperbaiki kondisi ini. Kebiasaan seperti langsung tidur setelah makan, yang sering terjadi pada individu yang kurang aktif, menjadi pemicu kuat munculnya gejala GERD.

“Dan anak gemuk ini biasanya mager ya, aktivitasnya minim sekali. Hobinya main main, terus habis makan langsung bobo. Nah, itu sangat memicu GERD,” tegas dr. Dedy.

Oleh karena itu, ia menyimpulkan bahwa aktivitas fisik memiliki peran yang sangat krusial dalam menekan keluhan GERD.

 “Jadi aktivitas fisik di sini itu jelas akan sangat berpengaruh untuk mengurangi keluhan-keluhan GERD tadi,” tutupnya.

(dec/spt)

No more pages