Mantan pejabat militer dari Kathmandu mengatakan situasi tampak lebih tenang setelah tentara mengambil alih kendali.
"Tidak ada laporan kekerasan di jalanan karena tentara telah mengambil alih keamanan dan ketertiban," kata Binoj Basnyat, pensiunan mayor jenderal Angkatan Darat Nepal yang kini menjadi analis militer independen. "Para demonstran tetap tenang dan tidak ada insiden kekerasan yang dilaporkan."
Menurut laporan media lokal, bandara di ibu kota tetap ditutup.
Negara Himalaya ini menjadi negara terbaru di kawasan Asia Selatan yang diguncang oleh demonstrasi anti-pemerintah yang disertai kekerasan, yang sebagian besar digerakkan oleh anak muda.
Tahun lalu, demonstrasi di Bangladesh berujung pada penggulingan pemimpin lama Sheikh Hasina, sementara pada 2022 pemerintahan Sri Lanka juga jatuh di tengah kerusuhan massal.
Bersama Oli, beberapa menteri penting juga mengundurkan diri di tengah kritik atas respons kekerasan pemerintah terhadap demonstrasi itu, menciptakan kekosongan politik di negara tersebut.
Para analis mengatakan ketidakstabilan yang meningkat di negara tersebut dapat menjadi masalah bagi India.
"India dan Nepal tetap terikat oleh hubungan ekonomi, keamanan, dan budaya yang mendalam," tulis Chetna Kumar, analis geoekonomi Bloomberg untuk Asia Selatan. "Perbatasan mereka yang terbuka membuat stabilitas Nepal secara langsung relevan dengan keamanan dalam negeri India."
Nepal secara strategis terletak di antara India dan China dan memiliki potensi tenaga air yang besar. Di bawah kepemimpinan Oli, Nepal semakin dekat dengan Beijing. New Delhi akan berusaha keras untuk membatasi pengaruh rivalnya di kawasan tersebut.
Kerusuhan politik dipicu ketika pemerintah Nepal pekan lalu melarang beberapa platform media sosial yang gagal mendaftar ke pemerintah, termasuk Facebook, X, dan YouTube. Pemerintah mengatakan regulasi baru ini akan mencegah berita palsu, ujaran kebencian, dan kejahatan siber.
Para demonstran mengatakan pembatasan tersebut mencerminkan sikap otoriter pemerintah dan menuduh mereka gagal mengatasi korupsi yang merajalela.
Protes ini juga mencerminkan frustrasi mendalam di kalangan pemuda Nepal atas pengangguran dan ketidaksetaraan. Istilah seperti "nepo kids" menjadi viral di berbagai unggahan media sosial terkait protes—digunakan untuk menggambarkan secara sinis tren anak-anak elite yang memamerkan kekayaan mereka di media sosial.
Lebih dari 20% dari 30 juta penduduk negara ini hidup dalam kemiskinan, menurut Bank Dunia, sementara angka resmi terbaru memperkirakan tingkat pengangguran kaum muda mencapai 22%.
(bbn)































