“Belum adanya sumur produksi baru pada blok Pangkah di tahun 2025,” kata dia.
Tren penurunan lifting migas itu terjadi di tengah wacana manajemen untuk kembali mendorong upaya divestasi Saka Energi ke PT Pertamina Hulu Energi (PHE).
Apalagi, belakangan PGAS kembali mengalami persoalan defisit gas pipa dari sejumlah kontraktor untuk memenuhi kebutuhan industri di Jawa Barat.
Sekadar catatan, PGAS mengelola 11 blok migas lewat Saka Energi. Enam blok di antaranya telah beroperasi sementara sisanya masih dalam tahap eksplorasi.
Saka Energi turut mengimpit saham minoritas 36% di blok shale gas di AS, yakni Blok Fasken.
Perusahaan juga memegang kendali penuh atas Blok Ujung Pangkah, Blok Sesulu Selatan, Blok Muriah, Blok Pekawai, Blok Yamdena Barat, dan Blok Sangkar.
Di sisi lain, penyertaan modal minor Saka Energi tersebar di Blok Ketapang, Blok Bengkanai Barat hingga Blok Muara Bakau.
Seiring dengan rencana restrukturisasi bisnis hulu yang kembali mencuat, PGAS justru mencatatkan laba minus 22,60% menjadi US$144,42 juta atau setara sekitar Rp2,37 triliun pada semester I-2025 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan laporan keuangan yang berakhir Juni 2025, PGAS mencatat kenaikan pendapatan 5,37% secara tahunan menjadi US$1,94 miliar.
Namun, kenaikan itu tak sebanding dengan meningkatnya beban pokok pendapatan sebesar 13,02% secara tahunan menjadi US$1,62 miliar. Konsekuensinya, PGAS mencatat penurunan laba kotor 21,51% secara tahunan menjadi US$319,62 juta.
(naw)






























