Arus kas operasi masih positif sebesar US$335 juta dengan saldo kas US$1,5 miliar. Adapun, belanja modal atau capital expenditure (capex) terserap US$94 juta, mayoritas dialokasikan ke segmen hilir.
Gas Niaga
Pada semester I-2025, volume niaga gas PGN mencapai 832 billion british thermal units per day (BBtud), turun 1,1% yoy akibat penurunan pasokan pipa dan permintaan pelanggan. Untuk menjaga keandalan, perseroan meningkatkan porsi LNG dalam bauran pasokan menjadi 10%.
Dari sisi pelanggan, penyerapan terbesar berasal dari pembangkit listrik 27%, industri kimia 18%, keramik 10%, makanan 9%, besi 6%, dan kaca 5%.
Sementara itu, volume transportasi gas mencapai 1.627 MMSFD atau naik 10% yoy, didorong kenaikan aliran di ruas pipa Muara Karang—Muara Tawar dan peningkatan serapan PLN. Volume regasifikasi, termasuk Terminal Usage Agreement, naik 24% menjadi 246 BBtud.
Segmen transportasi minyak juga naik 15% yoy, sementara lifting migas PGN turun akibat natural decline dan belum adanya sumur baru di Blok Pangkah.
Proyek Strategis
Di sisi lain, PGN menyiapkan sejumlah proyek strategis untuk memperluas infrastruktur gas bumi. Salah satunya pembangunan pipa gas Tegal—Cilacap yang ditargetkan komisioning kuartal III-2026, dengan potensi pasokan sekitar 51 million standard cubic feet per day (MMSCFD).
Proyek revitalisasi LNG Tank F6004 juga mencatat progres signifikan dengan konstruksi mencapai 81,1% untuk tank dan 94,39% untuk fasilitas nontangki, yang ditargetkan selesai akhir 2025.
Selain itu, program jaringan gas rumah tangga terus dilanjutkan. Hingga Juni 2025, PGN menambah 13.999 sambungan rumah, sehingga total sejak 2021 mencapai 143.087 sambungan.
Perusahaan juga menyiapkan proyek Biometan yang direncanakan mulai onstream 2026 sebagai bagian dari komitmen mendukung target net zero emission 2060.
Direktur Utama PGN Arief Setiawan Handoko menegaskan strategi perusahaan dirangkum dalam inisiatif Grow, Adapt, Step Out (GAS).
“PGN siap memperkuat bisnis gas; baik dari aspek pasokan, keandalan infrastruktur, maupun pengembangan demand untuk mendorong transisi energi serta menghadirkan inovasi energi bersih,” ujarnya.
Dengan penguasaan lebih dari 90% pangsa pasar niaga gas bumi nasional, PGN melihat peran strategis dalam transisi energi Indonesia menuju emisi nol bersih 2060.
Gas bumi yang disalurkan perseroan memiliki emisi 450—550 gram CO₂ per kWh, jauh lebih rendah dibandingkan dengan energi fosil lain seperti minyak dan batu bara.
(rtd/wdh)































