Logo Bloomberg Technoz

“Land acquisition sudah hampir 100%, termasuk critical land area sudah completed. First blasting sudah dilakukan di bulan Juni kemarin,” ujar tim IR kepada Bloomberg Technoz, dikutip Rabu (10/9/2025). 

Mereka menyebut saat ini tengah melakukan pekerjaan blasting lanjutan dan aktivitas pra-penambangan seperti land clearing untuk persiapan konstruksi. 

“Target kami masih sama untuk COD di semester II-2026 dan mulai berkontribusi ke pendapatan INDY sekitar kuartal IV-2026,” tambahnya.

Untuk jangka menengah dan panjang, kapasitas produksi Awakmas diperkirakan mencapai 100.000–120.000 ounce per tahun. INDY menegaskan tidak memiliki rencana akuisisi tambang baru dalam waktu dekat, dan masih fokus pada penyelesaian Awakmas.

Dengan demikian, INDY berupaya menjadikan proyek emas ini sebagai tulang punggung baru, sejalan dengan upaya diversifikasi portofolio di luar batubara.

Berbeda dengan Arsjad, keluarga Soeradjaja dan Boy Thohir melalui MDKA menempuh jalur pasar modal dengan melepas saham anak usaha emasnya, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), melalui penawaran umum perdana saham (IPO). Rencana ini menimbulkan sorotan karena EMAS masih membukukan kerugian sejak 2022.

Selain itu, sekitar 80% hasil IPO EMAS tidak akan dialokasikan untuk ekspansi, melainkan digunakan untuk membayar utang perseroan kepada induk usaha, yakni MDKA.

Dalam aksi penawaran umum perdana saham (IPO), perusahaan melepas hingga 1,62 miliar saham baru bernilai nominal Rp150 per saham pada kisaran harga Rp1.800–Rp3.020, dengan potensi dana segar sekitar Rp4,89 triliun. 

Mayoritas dana tersebut, yakni US$260 juta atau setara Rp4,26 triliun, akan dipakai untuk melunasi utang kepada induk usaha, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Sementara itu, masing-masing US$20 juta atau sekitar Rp328,4 miliar akan disalurkan sebagai tambahan modal kerja ke PT Pani Bersama Tambang dan PT Puncak Emas Tani Sejahtera.

Berdasarkan prospektus awal, pada kuartal I-2025, perseroan mencatatkan rugi bersih sebesar US$9,21 juta, meningkat dibandingkan kerugian US$4,17 juta pada periode sama tahun lalu. 

Sepanjang 2024, kerugian tercatat US$12,70 juta, setelah sebelumnya juga merugi US$6,83 juta pada 2023. Membengkaknya rugi kuartal I/2025 turut dipengaruhi nihilnya pendapatan, kondisi yang juga pernah terjadi pada tahun buku 2022. 

Hingga Maret 2025, MGR memiliki total aset senilai US$543,30 juta dengan ekuitas US$263,30 juta, sedangkan liabilitas tercatat US$280,09 juta yang terdiri atas utang jangka panjang US$202,09 juta dan jangka pendek US$77,91 juta.

(dhf)

No more pages