"Artinya, Purbaya akan tetap menjaga defisit berada di bawah 3%, meskipun berkemungkinan akan mepet ke angka 3% jelang akhir tahun, karena kebutuhan untuk belanja pembiayaan program-program unggulan Prabowo," sambungnya.
Di sisi lain, Ronny menambahkan, pasar kemungkinan akan bersikap wait and see tetapi tidak bereaksi berlebihan. Hal ini karena arah kebijakan Purbaya dinilai tidak akan jauh berbeda dengan Sri Mulyani dan cukup dapat diprediksi.
"Bahkan dengan backgroundnya di LPS, Purbaya boleh jadi jauh lebih konservatif ketimbang SMI dari sisi fiskal, karena lebih mengutamakan stabilitas makroprudensial," tegasnya.
Sejalan dengan hal tersebut, dia memandang bahwa penunjukan Purbaya menunjukkan kehati-hatian Presiden Prabowo dalam menentukan figur Menteri Keuangan, dan tidak mendadak menaikan salah satu Wamenkeu begitu saja menjadi Menkeu.
Profil Purbaya Yudhi Sadewa
Sebelum ditunjuk sebagai Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menjabat sebagai Kepala Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sejak 2020.
Purbaya diketahui menempuh pendidikan Teknik Elektro di Institut Teknologi Bandung (ITB), lalu meraih gelar Master of Science dan Doktor bidang Ekonomi dari Purdue University, Indiana, Amerika Serikat. Kariernya di sektor ekonomi dimulai sebagai Senior Economist di Danareksa Research Institute, kemudian naik menjadi Chief Economist dan anggota dewan direksi PT Danareksa (Persero).
Pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Purbaya pernah menjabat sebagai Staf Khusus bidang ekonomi di Kementerian Koordinator Perekonomian serta anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN).
Di era Presiden Joko Widodo, ia mengisi sejumlah posisi strategis, antara lain Staf Khusus bidang ekonomi di Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan; Staf Khusus bidang ekonomi di Kementerian Koordinator Kemaritiman; serta Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi di Kemenko Marves.
(lav)
































