Logo Bloomberg Technoz

"Dalam leksikon diplomasi, kedatangan terakhir sering diperuntukkan bagi yang paling dihormati. Itu adalah tanda penghormatan yang halus namun jelas. Hal ini mencerminkan posisi Indonesia saat ini: diperlakukan setara oleh kekuatan besar dunia,” ujarnya.

Shan juga menggarisbawahi resonansi historis dari momen ini, yang mengingatkan pada peran Presiden Soekarno di Konferensi Asia Afrika Bandung 1955.

(Dok. Shan Shaeed)

"Saat itu Indonesia memberi suara bagi bangsa-bangsa pascakolonial dan menjadi katalis Gerakan Non-Blok. Kini, seperti saat itu, Indonesia kembali menempatkan diri bukan sebagai pengamat pasif, melainkan penggerak agenda yang dinamis, menjembatani perbedaan, memperkuat suara dunia berkembang, dan menawarkan alternatif terhadap struktur kekuasaan yang biner,” kata Shan.

Menurutnya, tujuh dekade kemudian, ritme sejarah kembali berdentang.

"Di tengah rivalitas geopolitik yang kian memanas dan arsitektur global yang terfragmentasi, Indonesia sedang diposisikan ulang sebagai penyeimbang strategis yang dapat berinteraksi dengan Timur maupun Barat, sekaligus tetap menjadi advokat tepercaya bagi Global South,” ujarnya.

Shan menegaskan, bagi rakyat Indonesia, ini bukan sekadar seremoni.

"Ini adalah penegasan kembali bahwa bangsa mereka terus mendapatkan penghormatan, pengaruh, dan relevansi di koridor kekuasaan global dengan suara yang bukan hanya didengar tetapi juga semakin diperhatikan dalam membentuk arah masa depan dunia,” tutupnya.

(red)

No more pages