Kendati demikian, impor minyak mentah periode Juli 2025 lebih rendah 27,8% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya di level US$1,08 miliar.
Selain itu, impor hasil minyak mentah pada Juli 2025 masih lebih rendah 30,04% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu di level US$2,46 miliar.
Di sisi lain, impor minyak mentah Januari-Juli 2025 secara keseluruhan mencapai US$4,96 miliar atau sekitar Rp81,34 triliun.
Posisi impor minyak mentah year-to date itu lebih rendah 21,07% dibandingkan dengan posisi periode yang sama tahun lalu sebesar US$6,28 miliar atau sekitar Rp103,05 triliun.
Sementara itu, impor hasil minyak Januari—Juli 2025 mencapai US$13,41 miliar atau sekitar Rp219,8 triliun. Posisi impor itu lebih rendah 12,20% dari realisasi belanja periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$15,27 miliar atau sekitar Rp250,35 triliun.
Lonjakan impor minyak mentah dan hasil minyak pada Juli 2025 secara bulanan itu terjadi di tengah kelangkaan pasokan bahan bakar minyak (BBM) pada jaringan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta milik Shell Indonesia dan BP-AKR.
Kedua perusahaan ritel BBM itu melaporkan kehabisan pasokan pada akhir bulan lalu.
BP-AKR melaporkan kelangkaan pasokan BBM itu terjadi untuk produk BP Ultimate dengan nilai oktan RON 95 dan BP 92 dengan oktan RON 92.
Sementara itu, Shell Indonesia melaporkan kehabisan pasokan pada lini produk Shell Super, Shell V-Power dan Shell V-Power Nitro+.
President Director & Managing Director Mobility Shell Indonesia Ingrid Siburian tidak menjelaskan penyebab pasti gangguan pasok BBM di SPBU perseroan, yang notabene merupakan kejadian yang sudah beberapa kali terulang sejak awal tahun ini.
“Produk BBM Shell Super, Shell V-Power, dan Shell V-Power Nitro+ tidak tersedia di beberapa jaringan SPBU Shell hingga waktu yang belum dapat dipastikan,” ujarnya saat dimintai konfirmasi, Rabu (27/8/2025).
Sebelumnya, kabar ihwal kelanggkaan produk BBM BP-AKR itu ramai jadi obrolan masyarakat di media sosial.
Gangguan pasokan tersebut setidaknya terjadi di areal Jabodetabek dan sekitarnya. Sebagian masyarakat ramai mengeluh di akun resmi media sosial BP-AKR dan Shell yang ikut mengalami kekurangan pasokan.
Kuota Impor
Belakangan, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan kementeriannya telah memberikan tambahan kuota impor BBM kepadaShell dan BP-AKR.
Hanya saja, Bahlil enggan memerinci besaran kuota impor yang diberikan kepada dua operator SPBU swasta tersebut.
“Saya ingin katakan bahwa semua perusahaan swasta itu telah mendapatkan kuota impor yang jumlahnya sama dengan 2024, ditambah dengan 10%,” tegas Bahlil saat ditemui di kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (27/8/2025).
“Dan saya ingin katakan hajat hidup orang banyak dikuasai negara ya. Jadi Pertamina akan diperkuat, kita perkuat,” imbuhnya.
Dihubungi terpisah, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH) berjanji akan segera mengecek penyebab gangguan pasok BBM di jaringan SPBU milik swasta, khususnya Shell dan BP-AKR.
“Kalau terkait [dengan penyebab kekosongan pasokan] itu mesti kita cek dahulu ke badan usahanya, penyebab pastinya apa. Apakah karena proses pengiriman atau [kenaikan] permintaan,” ujar Anggota Komite BPH Migas Saleh Abdurrahman saat dihubungi, Rabu (27/8/2025).
(naw/wdh)






























