Logo Bloomberg Technoz

Eramet Beber 3 Aral Investasi Nikel di RI: Royalti, RKAB, Smelter

Azura Yumna Ramadani Purnama
26 August 2025 09:10

Sebuah dump truck melintasi jalan akses di tambang nikel diMorowali, Sulawesi Tengah. (Dimas Ardian/Bloomberg)
Sebuah dump truck melintasi jalan akses di tambang nikel diMorowali, Sulawesi Tengah. (Dimas Ardian/Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta – Eramet Indonesia memandang terdapat sejumlah persoalan yang menghambat perkembangan industri pertambangan nikel di Indonesia, seperti aturan tarif royalti yang mengalami penyesuaian hingga perubahan skema pelaporan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) dari setiap 3 tahun menjadi per 1 tahun.

Akan tetapi, korporasi menegaskan investasi di industri nikel Tanah Air memang menjanjikan dan memiliki potensi tinggi.

CEO Eramet Indonesia Jerome Baudelet berpendapat, persoalan pertama yang harus dihadapi investor yakni kebijakan kenaikan tarif royalti bijih nikel dan produk turunannya.


Menurutnya, kebijakan tersebut memang memiliki dampak positif bagi keuangan negara, sayangnya diterapkan saat industri nikel dalam negeri sedang kesulitan.

“Saya pikir itu baik untuk meningkatkan pendapatan pemerintah. Satu-satunya masalah adalah itu datang pada waktu yang paling buruk. Itu datang saat industri sedang mengalami kesulitan,” kata Baudelet dalam taklimat media di Jakarta Pusat, Senin (25/8/2025).

CEO Eramet Indonesia Jerome Baudelet./Bloomberg Technoz-Azura Yumna Ramadani Purnama