Logo Bloomberg Technoz

Terlebih, industri nikel pirometalurgi berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) tengah mengalami tekanan akhir-akhir ini, sehingga PT GNI harus dapat memastikan prospek bisnis yang dijalankan dapat menjanjikan dalam jangka panjang.

“Saat dana masuk GNI perlu melakukan penataan manajemen dan SDM, penyiapan peningkatan produksi dan perencanaan operasi dalam jangka pendek serta panjang,” ujarnya.

Saat dimintai konfirmasi, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian Setia Diarta mengaku belum dapat memberikan informasi terbaru terkait dengan pendanaan smelter GNI.

Sebelumnya, dia menyatakan PT GNI akan mendapatkan pendanaan baru usai Jiangsu Delong Nickel Industry Co., induk usaha PT GNI kolaps di China. 

Ia menegaskan, PT GNI masih menjadi entitas anak usaha Jiangsu Delong hingga pendaan baru tersebut belum diterima. Menurutnya, anak usaha grup konglomerat China itu masih menunggu jadwal rapat dengan krediturnya untuk mendapatkan pendanaan baru.

Dia menyatakan jadwal rapat PT GNI dengan krediturnya dijadwalkan pada pertengahan bulan ini. “Kami dapat kabar, baru pertengahan Agustus ini rapatnya terjadwal,” kata Setia ketika dimintai konfirmasi, Selasa (12/8/2025).

Adapun, Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) menjelaskan bahwa PT GNI memiliki lebih dari 20 lini produksi nickel pig iron (NPI) untuk bahan baku baja nirkarat atau stainless steel.

Namun, hampir seluruh lini produksi PT GNI telah offline sejak awal 2024, dan hanya “sebagian lini yang masih berjalan.”

“Estimasinya lebih dari 15 lini produksi [GNI] telah dihentikan, kemungkinan mendekati total shutdown,” kata Anggota Dewan Penasihat Pertambangan APNI Djoko Widajatno saat dihubungi, medio Juli.

Djoko, dalam kesempatan terpisah, mengungkapkan salah satu pendaan baru untuk PT GN disebut-sebut berpotensi diberikan oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Namun, dia mengatakan kabar seputar rencana akuisisi smelter GNI oleh Danantara masih terus berkembang.

Saat ini, menurutnya, Danantara dikabarkan masih menunggu persetujuan pemangku kepentingan dan proses due diligence. Menurut Djoko, Danantara akan menyiapkan pendanaan awal akuisisi GNI sekitar US$20 miliar.

Selain dari Danantara, kata Djoko, pendanaan untuk GNI berasal dari kredit sindikasi senilai US$60 juta untuk mendukung likuiditas jangka menengah.

Chief Executive Officer (CEO) BPI Danantara Rosan Roeslani juga telah buka suara terkait isu tersebut. Menurut dia, Danantara tengah membuka peluang mengakuisisi smelter PT GNI, yang notabene merupakan salah satu proyek strategis nasional (PSN) hilirisasi nikel.

Rosan menyatakan Danantara memang tengah mengkaji investasi ke proyek hilirisasi serupa. Jika smelter milik anak usaha Jiangsu Delong itu masuk kedalam kriteria investasi, tegasnya, Danantara bisa saja berinvestasi di PT GNI.

(azr/wdh)

No more pages