Hanya ada 325 saham yang menguat. Sedangkan sebanyak–banyaknya 317 saham melemah dan 162 saham lainnya tidak bergerak.
Sejumlah saham menjadi pemberat IHSG pada perdagangan hari ini. Saham–saham barang baku, saham energi, dan saham konsumen primer mencatatkan pelemahan paling ambles, dengan masing–masing drop mencapai 1,55%, 1,3% dan 0,47%.
Di samping itu, masih ada saham–saham yang menguat dan menjadi top gainers di antaranya saham PT Paperocks Indonesia Tbk (PPRI) yang melesat 34,7%, saham PT Cipta Sarana Medika Tbk (DKHH) terbang 33,8%, dan saham PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) melejit 25%.
Kemudian saham yang melemah dalam dan menjadi top losers di antaranya saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang ambles 14,7%, saham PT Citra Borneo Utama Tbk (CBUT) yang jatuh 14,2%, dan saham PT Toba Pulp Lestari Tbk (INRU) yang drop 12,42%.
Bursa Saham Asia lainnya justru menguat. i.a. Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), Straits Time (Singapura), Hang Seng (Hong Kong), KOSPI (Korea Selatan), SETI (Thailand), Shenzhen Comp. (China), PSEI (Filipina), Shanghai Composite (China), SENSEX (India), dan CSI 300 (China), yang berhasil menguat dengan laju masing-masing 2,21%, 1,04%, 0,92%, 0,91%, 0,81%, 0,78%, 0,67%, 0,66%, 0,51%, dan 0,39%.
Di sisi berseberangan, NIKKEI 225 (Tokyo), TOPIX (Jepang), KLCI (Malaysia), dan Weighted Index (Taiwan), yang tertekan masing–masing 1,25%, 1,1%, 0,42%, dan 0,24%.
Jadi, IHSG adalah Bursa Saham dengan pelemahan terdalam ketiga di Asia, bersanding dengan Bursa Saham Jepang.
Sentimen yang buat lesu IHSG sepanjang hari ini datang dari dalam negeri, lantaran Ekonomi Indonesia diprediksi tumbuh melambat pada Kuartal II–2025 dibanding sebelumnya.
Badan Pusat Statistik akan merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia periode Kuartal II–2025 pada esok hari, Selasa. Konsensus Bloomberg yang melibatkan 30 analis/ekonom menghasilkan median proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,8% secara tahunan (year–on–year/yoy).
Jika terjadi, maka melambat dibanding Kuartal I–2025 yang tumbuh 4,87%. Pertumbuhan ekonomi 4,8% yoy juga akan menjadi yang terlemah sejak Kuartal III–2021 atau nyaris 4 tahun.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepertinya melambat pada Kuartal II–2025. Konsumsi rumah tangga dan investasi terbeban imbas ketidakpastian, termasuk akibat kebijakan Amerika Serikat (AS),” sebut Tamara Mast Henderson, Ekonom Bloomberg Economics, dalam risetnya.
Senada, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat ke 4,78% yoy pada Kuartal II–2025. Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) juga sudah menyoroti soal risiko perlambatan ekonomi pada Kuartal II–2025. Pertumbuhan ekonomi sepertinya akan terhambat oleh pelemahan konsumsi rumah tangga, meski kinerja ekspor cukup baik.
Di samping fundamental perekonomian, amblesnya IHSG yang begitu dalam merupakan efek secara langsung dari turunnya sejumlah saham Big Caps.
Berikut selengkapnya Penyebab IHSG melemah berdasarkan data Bloomberg per Senin 4 Agustus.
- Amman Mineral Internasional (AMMN) menekan 39,33 poin
- Barito Renewables Energy (BREN) menekan 22,84 poin
- Chandra Asri Pacific (TPIA) menekan 9,04 poin
- Barito Pacific (BRPT) menekan 7,48 poin
- Sinar Mas Multiartha (SMMA) menekan 5,2 poin
- Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menekan 4,96 poin
- Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) menekan 4,54 poin
- GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) menekan 4,3 poin
- Merdeka Copper Gold (MDKA) menekan 2,51 poin
- Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP) menekan 1,94 poin
Adapun saham–saham barang baku lain juga jadi pendorong pelemahan IHSG, saham PT Pam Mineral Tbk (NICL) drop 5,94%, saham PT Superior Prima Sukses Tbk (BLES) ambles 4,79% dan saham PT Polychem Indonesia Tbk (ADMG) juga terjebak di zona merah dengan ambles 3,79%.
Disusul oleh pelemahan saham energi saham PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) yang terjun bebas 9,27%, saham PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) ambles 7,32%, dan saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) yang melemah 4,86%.
(fad)



























