Perusahaan juga memperingatkan bahwa pasar properti di China dan AS masih melemah.
Perusahaan tambang terbesar kedua di dunia ini melaporkan laba bersih inti sebesar US$4,8 miliar, turun 16% dibanding periode yang sama tahun lalu dan di bawah ekspektasi analis.
Rio akan membagikan dividen interim sebesar US$1,48 per saham, lebih rendah dari US$1,77 per saham tahun lalu, namun masih sesuai dengan rasio pembagian 50%.
Rio mengandalkan bijih besi sebagai kontributor utama pendapatan. Namun, harga komoditas tersebut selama periode ini tercatat turun 13% dibandingkan tahun lalu.
Perusahaan juga menghadapi tantangan dalam mempertahankan volume pengiriman bijih berkualitas tinggi dari tambang-tambang tuanya.
Penurunan kinerja ini muncul di tengah masa transisi penting bagi Rio. Dewan direksi mengganti Stausholm awal tahun ini, kendati dia berhasil menstabilkan perusahaan yang sebelumnya dilanda krisis, dewan menilai dibutuhkan pemikiran baru untuk mendorong pertumbuhan ke depan.
Awal bulan ini, Rio menunjuk Simon Trott — kepala divisi bijih besi — sebagai CEO baru yang akan mulai menjabat bulan depan.
Trott dibebani tugas menyederhanakan struktur perusahaan, menekan biaya, dan memaksimalkan aset inti Rio di tengah ekspansi besar-besaran yang sedang berlangsung.
Trott juga akan menghadapi sorotan atas strategi akuisisi Rio, menyusul kegagalan negosiasi pembelian Glencore Plc tahun lalu. Selain bijih besi, Rio memproduksi tembaga, aluminium, dan litium.
Utang Melonjak Imbas Ekspansi Litium
Langkah ekspansif Rio ke sektor litium melalui akuisisi Arcadium Lithium Plc senilai US$6,7 miliar membuat posisi utang bersih melonjak ke US$14,6 miliar sepanjang periode.
Kendati demikian, perusahaan tetap mempertahankan proyeksi belanja modal sebesar US$11 miliar untuk tahun ini — tertinggi sejak 2013 — untuk mendiversifikasi portofolio bahan baku dan menjaga kesinambungan produksi dari sektor bijih besi.
Permintaan bijih besi dari China yang cenderung stagnan telah membuat harga komoditas tersebut bertahan di bawah US$100 per ton sepanjang tahun, memangkas potensi keuntungan dari lini bisnis utama Rio.
Perusahaan juga mengungkap tarif perdagangan yang diterapkan Trump telah menambah beban biaya lebih dari US$300 juta terhadap unit aluminium di Kanada.
(bbn)






























