“Pertumbuhan global diperkirakan akan melambat, dengan ketahanan yang tampak sebelumnya akibat distorsi perdagangan mulai memudar,” tulis IMF. “Bahkan jika tarif tetap seperti yang diasumsikan dalam skenario dasar dan tidak ada kebijakan proteksionis baru, ketidakpastian yang tinggi terkait kebijakan perdagangan bisa semakin membebani aktivitas ekonomi.”
Peningkatan proyeksi pertumbuhan tahun ini disebabkan oleh membaiknya kondisi keuangan seiring pelemahan dolar AS, rata-rata tarif AS yang lebih rendah dari pengumuman sebelumnya pada April, serta dampak positif dari percepatan impor oleh pelaku usaha pada kuartal pertama.
Namun, ketidakpastian tetap menggelayuti pasar. Bahkan ketika kesepakatan telah dicapai—seperti dengan Uni Eropa atau Jepang—masih ada pertanyaan terkait rincian implementasi, serta kemungkinan Trump berubah sikap. Untuk 2026, pertumbuhan global hanya akan meningkat sedikit menjadi 3,1%.
“Pertumbuhan jangka menengah selama beberapa tahun terakhir relatif lemah, dan diperkirakan akan tetap lemah,” ujar Gourinchas dalam wawancara dengan Matthew Miller dan Katie Greifeld dari Bloomberg TV. “Yang menjadi kekhawatiran adalah bahwa tarif akan memperparah pertumbuhan jangka menengah yang sudah lesu ini, dan kemungkinan besar tidak akan segera dikoreksi.”
Gourinchas menambahkan bahwa defisit perdagangan AS yang menjadi dasar kebijakan dagang Trump adalah “kekhawatiran yang sah,” meskipun kecil kemungkinan penyebab utamanya bisa diatasi.
“Kebijakan tarif dan perdagangan seperti yang diterapkan saat ini memiliki peluang yang sangat kecil untuk benar-benar mengurangi defisit secara signifikan,” ujarnya. “Jika kita lihat akar permasalahannya, sebagian besar berasal dari kebijakan domestik yang justru memperbesar defisit ini, terutama kebijakan fiskal.”
IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan PDB AS untuk 2025 sebesar 0,1 poin persentase menjadi 1,9%. Namun, perbaikan ini menutupi pelemahan permintaan domestik yang lebih cepat dari perkiraan, serta penurunan arus imigrasi, menurut IMF. Sementara itu, pertumbuhan AS diperkirakan naik tipis menjadi 2% pada 2026 seiring mulai berlakunya insentif pajak investasi dari paket kebijakan ekonomi Trump yang disebut “one big beautiful bill”.
IMF juga mencatat tanda-tanda awal bahwa tarif yang lebih tinggi dan dolar yang lebih lemah mulai memicu kenaikan harga konsumen AS di beberapa kategori produk yang sensitif terhadap impor. Jika tren ini meluas, inflasi diperkirakan akan meningkat tajam pada paruh kedua tahun ini dan tetap berada di atas target 2% yang ditetapkan oleh bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) hingga 2026.
Sebaliknya, pertumbuhan harga konsumen di luar AS diperkirakan akan lebih terkendali karena tekanan permintaan akibat tarif AS.
Untuk kawasan euro, IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan tahun ini menjadi 1%, sambil mempertahankan proyeksi 2026 di angka 1,2%. Kenaikan dari proyeksi bulan April sebesar 0,2 poin persentase sebagian disebabkan oleh lonjakan ekspor farmasi dari Irlandia.
Laporan IMF ini tidak menyertakan dampak kesepakatan dagang baru antara Trump dan Uni Eropa yang diumumkan minggu ini, yang akan menerapkan tarif 15% atas hampir semua impor, termasuk mobil. Bloomberg Economics memperkirakan kebijakan ini akan memangkas output kawasan euro sebesar 0,4% dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Sementara itu, perbaikan dalam hubungan dagang antara China dan AS dibandingkan tiga bulan lalu tercermin dalam proyeksi IMF. Proyeksi pertumbuhan China pada 2025 dinaikkan 0,8 poin persentase menjadi 4,8%, seiring dengan tarif yang lebih rendah dan aktivitas ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan pada paruh pertama tahun ini.
Seperti biasa, IMF menekankan pentingnya stabilitas politik dan ekonomi, serta memperingatkan bahaya dari pembengkakan anggaran publik.
“Kebijakan harus mampu menghadirkan kepercayaan, kepastian, dan keberlanjutan melalui langkah-langkah meredakan ketegangan, menjaga stabilitas harga dan keuangan, memulihkan ruang fiskal, dan melaksanakan reformasi struktural yang sangat dibutuhkan,” tulis IMF. “Lanskap yang ambigu dan volatil ini juga membutuhkan komunikasi yang jelas dan konsisten dari bank sentral serta perlindungan atas independensi bank sentral, baik secara hukum maupun praktik.”
Pernyataan tersebut menjadi semakin relevan ketika Gubernur The Fed Jerome Powell terus diserang oleh Trump karena enggan menurunkan suku bunga.
IMF memprediksi bahwa The Fed dan Bank of England akan mulai memangkas suku bunga pada paruh kedua 2025, meskipun dengan kecepatan yang berbeda. Sementara itu, suku bunga kebijakan Bank Sentral Eropa diperkirakan tetap tidak berubah, dan Bank of Japan diperkirakan akan menaikkan suku bunga secara bertahap.
(bbn)






























