Logo Bloomberg Technoz

Proyek ini sempat diblokir, kemudian dibuka kembali oleh pemerintahan Trump tahun ini.

Equinor menjadi salah satu produsen minyak dan gas besar Eropa pertama yang merilis laporan keuangan kuartalan.

Di sisi lain, harga minyak global mengalami pelemahan sepanjang kuartal II, kendati sempat melonjak pada Juni akibat konflik antara Israel dan Iran.

Kebijakan perdagangan Presiden Donald Trump dan keputusan OPEC+ untuk terus menaikkan kuota produksi turut menekan prospek permintaan energi serta menimbulkan kekhawatiran terhadap kelebihan pasokan.

"Pasar minyak saat ini memang cukup ketat," ujar Chief Financial Officer Torgrim Reitan dalam wawancara dengan Bloomberg TV usai perilisan laporan kinerja.

"Harga minyak turun 20% dibandingkan tahun lalu, namun harga gas justru naik."

Pada Juni lalu, Reitan menyatakan yakin Equinor mampu bertahan di tengah fluktuasi harga minyak, dengan menyebut sejumlah proyek baru yang sedang dikembangkan memiliki titik impas di bawah US$40 per barel.

Harga acuan global Brent tercatat diperdagangkan mendekati US$69 pada Rabu.

Divisi pemasaran, midstream, dan pengolahan Equinor membukukan laba operasional disesuaikan sebesar US$333 juta, lebih rendah dari tahun lalu.

Kinerja ini dipengaruhi oleh optimalisasi perdagangan gas pipa di Eropa yang tertahan oleh hasil terbatas dari LNG, yang terdampak aktivitas pemeliharaan.

Total produksi setara minyak bumi perusahaan mencapai sekitar 2,1 juta barel per hari.

Produksi dari lapangan Johan Castberg, yang mulai beroperasi awal tahun ini, sebagian besar mampu menutupi gangguan akibat pemeliharaan di fasilitas LNG Hammerfest dan pabrik pengolahan gas Kollsnes.

"Kami berada di jalur yang tepat untuk mencapai target pertumbuhan produksi pada 2025 sesuai panduan kami," ujar CEO Anders Opedal dalam pernyataan resmi.

Equinor menyatakan penurunan nilai proyek Empire Wind mencerminkan perubahan regulasi yang menyebabkan hilangnya sinergi dari proyek angin lepas pantai mendatang serta meningkatnya eksposur terhadap tarif.

Per Maret, nilai buku kotor untuk fase 1 proyek tersebut tercatat sekitar US$2,5 miliar.

Proyek berkapasitas 810 megawatt dengan 54 turbin itu dirancang untuk menyuplai listrik ke 500.000 rumah dan dijadwalkan beroperasi komersial pada 2027.

(bbn)

No more pages