Pusat kendali tersebut akan mengintegrasikan seluruh sistem tersebut dalam satu pusat kendali dengan tingkat pengawasan setiap waktu serta sistem backup real-time.
Nilai Kerjasama Senilai Rp252 Miliar
Dalam pembangunan tersebut, WEGE, sebagai kontraktor utama mengatakan proyek pembangunan gedung pusat kendali BMKG senilai Rp252 miliar, dengan rincian gedung di Jakarta setinggi sembilan lantai dan seluas 8.679,88 m². Termasuk gedung dengan struktur empat lantai di Bali.
“Pembangunan gedung ini merupakan bagian dari proyek pengembangan sistem operasional InaTEWS untuk lokasi Jakarta dan Bali, dengan nilai kontrak awal sebesar Rp207,88 miliar dan adendum terakhir mencapai Rp252 miliar. Proyek ini dikategorikan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) dalam konteks peningkatan kapasitas mitigasi bencana,” ujar Direktur Operasional WEGE, Bagus Tri Setyana.
“Sistem ini mampu menahan guncangan gempa dengan periode ulang hingga 2.500 tahun. Pemasangan dilakukan setelah struktur utama selesai, menggunakan sistem jacking untuk memastikan akurasi dan keamanan,” tutupnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bagus juga mengatakan apabila terdapat perusahaan gedung yang hendak menggunakan teknologi anti bencana gempa, setidaknya perusahaan tersebut harus mengeluarkan uang sekitar 8-10% dari total nilai kontrak antara BMKG dan WEGE.
“Jadi gini, kalau kami amati, antara gedung konvensional dengan ditambahkan base insulator tadi kurang lebih menambah 8-10% cost-nya,” tutupnya.
(fik)






























