Logo Bloomberg Technoz

Alasan Sulitnya Bank Turunkan Bunga Kredit Versi Ekonom

Dovana Hasiana
18 July 2025 05:31

Ilustrasi penyaluran kredit, Kamis (1/8/2024). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Ilustrasi penyaluran kredit, Kamis (1/8/2024). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai BI Rate tidak lagi menjadi acuan bagi perbankan untuk menurunkan suku bunga dasar kredit (SBDK).

Peneliti Center of Macroeconomics and Finance INDEF Abdul Manap Pulungan mengatakan hal ini terjadi karena bank lebih mengacu pada suku bunga yang menentukan profitabilitas, seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

"Suku bunga SRBI itu yang diacu bank, kalau itu turun baru bank bereaksi. Kalau BI rate-nya tidak diacu. Sebab, bank sama kayak perusahaan. Tujuannya untuk mencapai laba maksimal. Jadi yang diacu mereka suku bunga yang menentukan profitabilitas," ujar Abdul kepada Bloomberg Technoz, Kamis (17/7/2025).


Menurutnya, BI Rate sejak dahulu memang tidak diacu oleh perbankan. Sebab, pada dasarnya suku bunga acuan bank sentral hanya bersifat sebagai sinyal bagi bank bagaimana arah kebijakan BI ke depan.

Ilustrasi penyaluran kredit (Bloomberg)

Terlebih, pada September 2023, BI meluncurkan SRBI yang tujuan awalnya untuk memperdalam pasar keuangan. Namun, tujuan awal tersebut tidak tercapai karena menyebabkan distorsi terhadap penyaluran kredit. Penempatan likuiditas di SRBI juga dinilai lebih menguntungkan karena memiliki tingkat suku bunga yang tinggi dibandingkan dengan penyaluran kredit yang dinilai berisiko.

Dua Opsi