Para produsen logam kini harus menavigasi gejolak perdagangan setelah Trump menaikkan tarif impor baja dan aluminium — awalnya menjadi 25% pada Maret, lalu meningkat ke 50% pada Juni — sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali industri manufaktur domestik.
Beban tarif terbaru yang ditanggung Alcoa tercatat 6 kali lebih besar dibanding kuartal pertama, ketika perusahaan yang berbasis di Pittsburgh itu mengatakan tarif 25% telah menambah biaya sebesar US$20 juta.
Raksasa pertambangan Rio Tinto Group juga mengungkapkan pada hari yang sama bahwa aluminium produksinya di Kanada menimbulkan biaya lebih dari US$300 juta sepanjang paruh pertama tahun ini akibat kebijakan tarif.
CEO Alcoa William Oplinger mengatakan pihaknya telah menjalin komunikasi intensif dengan pemerintah di kedua sisi perbatasan, termasuk secara langsung dengan Trump, untuk membahas dampak kebijakan tersebut.
Oplinger berulang kali mengingatkan bahwa pelanggan di AS pada akhirnya akan menanggung beban biaya dari tarif terhadap produsen aluminium.
“Meski kami tidak terlalu senang dengan tarif ini,” kata dia.
“Nyatanya pelanggan kami membayar harga aluminium jauh lebih tinggi di AS dibandingkan di bagian dunia lain.”
(bbn)






























