Juru bicara United Wa State Army belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Negara Bagian Wa menghentikan kegiatan pertambangan timah pada 2023 demi konservasi cadangan, dan kemudian menaikkan bea ekspor atas bijih berkadar tinggi pada tahun lalu.
Langkah tersebut secara signifikan menurunkan pasokan timah ke China, mengingat tambang-tambang yang dikelola oleh United Wa State Army sebelumnya menyumbang sekitar sepertiga dari pasokan timah ke negara tersebut sebelum larangan diberlakukan.
Harga timah sempat melonjak 30% dalam tiga bulan hingga awal April, didorong gangguan pasokan dari Myanmar dan Republik Demokratik Kongo—dua produsen utama dunia.
Namun harga mulai terkoreksi seiring pulihnya produksi di Kongo dan terjadinya aksi jual di pasar logam serta pasar keuangan secara lebih luas akibat kebijakan tarif.
Kelangkaan bijih global juga menekan tarif pemrosesan (treatment charges) bagi smelter di China, menurut seorang eksekutif Yunnan Tin Co., produsen timah terbesar di negara tersebut.
Dalam wawancara pada Mei lalu, dia mengatakan produksi di Kongo dan Myanmar diperkirakan akan kembali normal pada akhir tahun ini.
(bbn)
































