Logo Bloomberg Technoz

“Jika tidak diimbangi dengan peningkatan produksi domestik yang kompetitif, ini akan menyebabkan pelebaran defisit neraca dagang secara keseluruhan,” ujar Josua kepada Bloomberg Technoz, Rabu (16/7/2025). 

Mengutip kajian Bloomberg Economics karya Adam Farrar dan Rana Sajedi, tarif bea masuk produk Indonesia ke AS pada 2024 (sebelum Trump menggaungkan kebijakan tarif) memang rendah, kurang dari 5%. Saat ini, tarif efektif yang berlaku sudah naik ke hampir 15%.

“Dengan kesepakatan terbaru dengan tarif 19%, maka tarif efektif terhadap produk-produk Indonesia akan naik menjadi lebih dari 22%,” sebut riset itu.

Memang tarif tersebut jauh lebih rendah dari ‘ancaman’ awal. Namun bukan berarti tanpa risiko bagi Indonesia.

“Pembacaan awal kami mengindikasikan bahwa ekspor Indonesia ke AS bisa turun 25% dalam jangka menengah. Dampaknya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) adalah 0,3%,” ungkap riset Bloomberg Economics.

Selain itu, Josua mengatakan Pemerintah Indonesia berpotensi menghadapi penurunan pendapatan dari bea masuk secara signifikan. Kementerian Keuangan melaporkan realisasi penerimaan bea masuk adalah Rp23,6 triliun. Angka ini turun 2,7% secara tahunan atau year-on-year (yoy). 

Di sisi lain, kewajiban pembelian dalam jumlah besar seperti pesawat Boeing juga memperbesar tekanan terhadap posisi neraca pembayaran jangka pendek. 

Selain itu, Josua menggarisbawahi tarif resiprokal 19% untuk Indonesia—meski turun dari level sebelumnya sebesar 32%—masih lebih besar dibandingkan dengan era sebelum perang dagang. 

Sehingga, daya saing produk ekspor utama Indonesia ke AS seperti tekstil, alas kaki, elektronik, dan komoditas seperti kelapa sawit, masih menghadapi tekanan lebih besar dibandingkan dengan era sebelum perang dagang. 

Di sisi lain, Josua menilai kunci utama untuk memaksimalkan manfaat dari kesepakatan ini adalah bagaimana pemerintah Indonesia mengelola kebijakan impor agar difokuskan pada barang-barang modal dan teknologi, sekaligus meningkatkan efisiensi produksi dalam negeri agar mampu bersaing di pasar domestik maupun internasional. 

“Kesepakatan ini dapat menjadi katalis positif bagi pertumbuhan ekonomi di masa depan, asalkan Indonesia mampu secara efektif menerjemahkan kemitraan perdagangan ini menjadi dorongan nyata terhadap produktivitas, nilai tambah industri domestik, serta pembangunan infrastruktur ekonomi yang berkelanjutan,” ujarnya.

Presiden AS Donald Trump memastikan tarif impor untuk barang dari Indonesia sebesar 19%, alias lebih rendah dari pengumuman sebelumnya sebesar 32%.

Tidak terpisahkan dari komitmen tersebut, Trump juga menyebut Indonesia terikat perjanjian untuk membeli produk energi AS hingga US$15 miliar dan komoditas lainnya.

"Produk pertanian Amerika senilai US$4,5 miliar, dan 50 Jet Boeing, banyak di antaranya adalah Boeing 777," ujar Trump.

Melalui pengumuman tersebut, Trump menyatakan AS akan memiliki akses penuh terhadap pasar Indonesia tanpa tarif.

“Kami tidak akan membayar tarif. Jadi mereka memberi kami akses ke Indonesia, yang tidak pernah kami miliki. Itu mungkin bagian terbesar dari kesepakatan itu. Bagian lainnya adalah mereka akan membayar 19%, kami tidak akan membayar apa pun,” ujar Donald Trump.

(lav)

No more pages