“Namun, sebagian besar jemaah kita, terutama lansia dan ibu rumah tangga, belum terbiasa menggunakan sistem itu. Di sinilah pentingnya edukasi sejak di tanah air,” ujarnya.
Ia mendorong agar pelatihan teknologi menjadi bagian wajib dalam manasik haji tahun-tahun mendatang. “Untuk haji 2026, kita harus ingatkan dan ajarkan sejak awal fungsi teknologi ini. Minimal mereka tahu bagaimana menggunakan kartu Nusuk dan apa yang harus dilakukan jika tersesat,” tambahnya.
Tim PPIH Arab Saudi terus melakukan pencarian dengan menyisir berbagai lokasi strategis seperti rumah sakit, hotel, dan sekitar Masjidil Haram, serta berkoordinasi dengan otoritas Arab Saudi dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah. Bila pencarian masih belum membuahkan hasil hingga 12 Juli 2025, proses selanjutnya akan diambil alih oleh pihak KJRI.
Sebelumnya, Kepala Bidang Pelindungan Jemaah PPIH Arab Saudi, Kolonel Harun Al Rasyid, menjelaskan bahwa dua dari tiga jemaah yang hilang dilaporkan menghilang sebelum puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Untuk itu, proses badal haji (penggantian ibadah) sudah dijalankan oleh pemerintah.
(ain)































