Namun, berdasarkan survei UNFPA, tingkat fertilitas di kota besar berada di bawah 2, yang diindikasikan terjadi karena tekanan ekonomi. Sementara, untuk daerah padat penduduk lainnya, tingkat fertilitas berada pada level 2,5 hingga 2,6, yang menandakan masyarakat memiliki anak lebih dari tiga orang.
Menyitir dokumen State World of Population 2025, 39% orang yang disurvei di Indonesia menjawab keterbatasan finansial menjadi alasan tidak memiliki jumlah anak yang mereka inginkan. Sementara, 22% menjawab karena keterbatasan perumahan dan 20% menjawab karena pengangguran dan ketidakamanan pekerjaan.
Di Indonesia, 14% responden mengutip kekhawatiran tentang situasi politik atau sosial dan 9% mengutip perubahan iklim sebagai hambatan untuk memiliki anak.
Bonivasius mengatakan amanah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) menekankan pertumbuhan penduduk yang seimbang, yaitu bagaimana menjaga demografi tidak terlalu dan tidak terlalu sedikit.
“Kita mesti hati-hati dengan angka tingkat fertilitas di bawah 2, tetapi kita juga hati-hati dengan angka tinggi. Sehingga program Keluarga Berencana tetap masih ada hanya akan kita lihat sesuai disparitas angka tingkat fertilitas. Ini programnya lebih ke kebijakan asimetris, tidak satu sama untuk semua,” ujarnya.
(dov)































