Logo Bloomberg Technoz

Dalam situasi tersebut, ECB meningkatkan upaya mereka untuk mengatasi risiko ekonomi terkait iklim. Termasuk di dalamnya penyesuaian kebijakan yang diumumkan pekan ini, yang menyatakan bahwa bank sentral akan sepenuhnya mempertimbangkan dampak perubahan iklim dan “degradasi alam” dalam penetapan kebijakan moneter.

Menurut Elderson, keputusan tersebut merupakan tambahan penting dalam narasi kebijakan ECB, disampaikannya di sela-sela konferensi tahunan ECB di Sintra, Portugal.

Fokus baru pada risiko yang berkaitan dengan alam ini nantinya akan masuk ke dalam berbagai aspek peran ECB, baik dalam menjaga stabilitas harga maupun pengawasan terhadap bank-bank sistemik di kawasan Eropa.

Pendekatan ini sangat kontras dengan kebijakan Federal Reserve AS. Meskipun Ketua The Fed Jerome Powell mengakui risiko perubahan iklim bagi ekonomi dan sistem keuangan AS, ia berulang kali menegaskan bahwa The Fed bukan pembuat kebijakan iklim.

“Sudah sering saya katakan bahwa kami bukan pembuat kebijakan iklim,” ujar Powell dalam konferensi pers Mei lalu. “Peran kami dalam isu iklim sangat-sangat terbatas.”

Upaya The Fed yang cenderung mengecilkan peran iklim dalam menjaga stabilitas keuangan juga terlihat dalam intervensinya untuk melunakkan standar global, termasuk yang ditetapkan oleh Komite Basel untuk Pengawasan Perbankan, seperti dilaporkan Bloomberg sebelumnya.

Bahkan di Jerman, ekonomi terbesar Eropa, masih ada perlawanan terhadap kebijakan yang mendukung agenda iklim dan HAM. Stiftung Familienunternehmen, sebuah kelompok lobi untuk bisnis keluarga, menyatakan keraguan atas konstitusionalitas penerapan standar semacam itu dalam regulasi Eropa.

Namun, Elderson menegaskan bahwa “meski ada perlawanan, Dewan Gubernur ECB tetap pada pendiriannya dan justru menegaskan bahwa kami kini memahami bahwa kami harus berpikir melampaui sekadar dampak iklim terhadap stabilitas harga.”

ECB masih mengkaji peristiwa seperti musim panas 2022 untuk memahami dampaknya terhadap inflasi dan PDB, sebagai bagian dari upaya untuk memproyeksikan tren ke depan.

Berbeda dari risiko iklim seperti emisi CO2, risiko alam jauh lebih kompleks. “Tak ada satu metrik tunggal untuk mengukur risiko alam,” ujar Elderson. “Kita harus melihat stok ikan, ketersediaan kayu, kualitas tanah, hingga kelangkaan dan mutu air.”

Dalam jangka pendek, akan ada lebih banyak riset dan keterlibatan publik. “Lalu kita perlu bertanya: apa dampaknya terhadap pemahaman kita soal ekonomi, soal inflasi? Apa artinya bagi keberlanjutan utang?”

Pada akhirnya, respons ECB terhadap risiko alam bisa saja menyerupai pendekatannya dalam menghadapi risiko iklim.

“Setiap kali kami merancang instrumen, mempertimbangkan jaminan (collateral), atau arah pembelian aset di masa depan, semuanya akan mempertimbangkan risiko-risiko ini,” pungkasnya.“Jika kita menutup mata terhadap hal itu, kita juga akan melewatkan bagian penting dari risiko kredit, setidaknya bagi sebagian bank yang kami awasi.”

(bbn)

No more pages