Dikonfirmasi secara terpisah, Kepala Ekonom Bank Pertama Josua Pardede memproyeksikan inflasi bulanan pada Juni 2025 naik tipis sebesar 0,08% (mom), berbalik dari deflasi 0,37% (mom) yang tercatat pada Mei 2025.
Josua menilai faktor utama penyebab kenaikan moderat ini berasal dari tekanan harga pangan yang kembali meningkat setelah mengalami penurunan pada bulan sebelumnya. Inflasi kelompok harga bergejolak (volatile food) diperkirakan meningkat terutama disebabkan oleh naiknya harga beberapa komoditas pangan, seperti bawang merah, beras, dan cabai rawit.
"Harga bawang merah meningkat karena gangguan produksi akibat kondisi tanah yang basah dan lembab serta serangan hama pasca musim hujan yang berdampak pada pasokan," ujar Josua kepada Bloomberg Technoz.
Sebagai gambaran, berdasarkan Panel Harga Badan Pangan Nasional, rata-rata harga bawang merah di 18 provinsi Indonesia pada periode Juni 2025 melampaui Harga Acuan Penjualan yang berada pada level Rp36.500–Rp41.500/kilogram.
Terakhir, Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang memproyeksikan inflasi Juni 2025 naik sebesar 0,2% (mom), dengan laju tahunan mencapai 1,9% (yoy) dan inflasi inti (core inflation) pada level 2,4% (yoy). Menurutnya, hal ini mencerminkan tekanan harga yang masih relatif terkendali tetapi selektif meningkat.
“Kenaikan ini terutama dipicu oleh naiknya harga bahan makanan seiring peningkatan permintaan selama libur sekolah dan hari raya Iduladha, serta tren harga emas global yang tetap tinggi, mendorong inflasi inti melalui kanal harga perhiasan dan komoditas bukan harga bergejolak lainnya,” ujar Hosianna.
(lav)





























