Harga minyak dunia jenis West Texas Intermediate sudah melompat naik hingga lebih dari 13% sejak ulah Israel pecah pada Jumat pagi waktu setempat, menuai kecaman keras dari banyak negara di dunia. Sedangkan minyak jenis Brent pagi ini dibuka melompat 5,5% di sesi perdagangan Asia.
Rupiah terimbas sentimen risk-off dengan para pemodal memilih keluar dari aset-aset berisiko dan sementara menyerbu aset safe haven terutama emas. Akan halnya dolar AS, tidak mengalami kenaikan yang besar, meski itu tidak membuat mata uang yang jadi lawannya kalis dari pelemahan.
Para pelaku pasar mengkhawatirkan gangguan suplai minyak dunia terganggu akibat langkah Israel menyerang ladang minyak Iran di Teluk Persia yang memicu penghentian aktivitas produksi.
"Pasar harus siap untuk periode ketidakpastian yang panjang. Melindungi diri dari potensi gangguan rantai pasokan minyak melalui eksposur ke pasar energi dan menambah emas, mungkin mengalami percepatan tren naik, itu adalah cara terbaik untuk melindungi portofolio dari eskalasi lebih lanjut di Timur Tengah," kata Wolf von Rotberg, Ahli Strategi Ekuitas di Bank J. Safra Sarasin, dilansir dari Bloomberg News.
Yield bisa naik lagi
Depresiasi rupiah kemungkinan tak terhindarkan dengan aksi penjualan di pasar saham maupun surat utang negara yang membesar pada Jumat pekan lalu, diperkirakan akan berlanjut hari ini karena faktor risk-off pasar global akibat perang di Timur Tengah.
"Aksi jual SUN berpotensi berlanjut hari ini akibat serangan saling balas antara Israel & Iran yang masih terus berlanjut dengan 10Y SUN menuju rentang 6,75%-6,80%. Sedangkan, 10Y INDON berpotensi stabil di rentang 5,20%-5.25%. Rupiah berpotensi melanjutkan depresiasi ke rentang Rp16.300-Rp16.400/US$," kata tim analis Mega Capital Sekuritas dalam catatannya, pagi ini.
Saat ini, pasar mengantisipasi skenario harga minyak mentah Brent melonjak hingga kisaran US$ 80 per barel dan kemungkinan The Fed menunda pemangkasan suku bunga hingga Desember sebesar 50 basis poin.
Secara teknikal nilai rupiah berpotensi kembali akan melemah, dibayangi sejumlah sentimen yang menekan, dengan target pelemahan menuju level Rp16.310/US$ yang merupakan support pertama, serta target pelemahan kedua akan tertahan di Rp16.350/US$.
Apabila kembali break kedua support tersebut, terlebih lagi di sepekan perdagangan ke depan, rupiah berpotensi melemah lanjutan dengan menuju level Rp16.400/US$ hingga Rp16.450/US$ sebagai support terkuat.
Jika nilai rupiah terjadi penguatan hari ini, resistance menarik dicermati ada pada level di rentang Rp16.250/US$ dan selanjutnya Rp16.200/US$ hingga Rp16.180/US$.
Pekan Bunga Acuan
Pekan ini, akan menjadi pekan penuh keputusan penting terkait kebijakan suku bunga acuan. Bank Indonesia akan menggelar Rapat Dewan Gubernur pada Selasa esok dan akan mengumumkan keputusan pada Rabu lusa.
Pekan ini, bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed) juga akan menggelar pertemuan komite (FOMC) untuk memutuskan kebijakan suku bunga acuan.
Konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg sejauh ini memperkirakan, Bank Indonesia kemungkinan akan mempertahankan bunga acuan di level 5,50% setelah memangkas tingkat bunga acuan sebanyak 25 basis poin pada pertemuan sebelumnya.
Namun, konsensus itu tidak bulat. Dari 27 ekonom, sebanyak 8 di antaranya memperkiran BI mungkin akan memangkas bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,25%, di tengah inflasi yang terus melandai dan stabilnya nilai tukar rupiah.
Sementara The Fed, mengacu pergerakan pasar swap, pasar bertaruh Jerome Powell dan rekan akan memutuskan untuk menahan Fed fund rate di level saat ini 4,5%. The Fed diprediksi baru akan memangkas suku bunga lagi pada pertemuan September nanti sebanyak 25 basis poin.
-- update penambahan analisis teknikal rupiah.
(rui)




























