Pelanggan, lanjut Marwan, memiliki keleluasaan untuk memilih paket data sesuai kebutuhan dan keinginan.
"ATSI terbuka untuk berdialog dengan seluruh pemangku kepentingan guna meningkatkan literasi digital masyarakat. Kami percaya, kebijakan yang adil bagi pelanggan dan mendukung keberlanjutan industri harus berbasis pada pemahaman menyeluruh atas model bisnis telekomunikasi," tegasnya.
Bloomberg Technoz mencoba menghubungi salah satu operator seluler lokal yakni PT Telekomunikasi Selular Indonesia. Namun mereka enggan merespons dan menyerahkan jawabannya kepada ATSI.
IAW menyampaikan usulan sebelumnya agar praktik bisnis kuota internet yang hangus dan merugikan pengguna dapat segera diaudit. Iskandar Sitorus dari IAW membandingkan layanan lain seperti listrik prabayar dan e-toll yang tidak memiliki masa kedaluwarsa.
(prc/wep)





























