Serangan Israel disebut sebagai langkah preemptive terhadap Iran di tengah meningkatnya ketegangan terkait program nuklir negara tersebut. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa negaranya kini berada dalam status darurat nasional.
Ketegangan meningkat di tengah upaya diplomatik yang sedang berlangsung, di mana pertemuan lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan digelar di Oman pada akhir pekan.
“Pasar menunjukkan respons klasik terhadap risiko geopolitik dengan reli pada obligasi dan emas, serta lonjakan harga minyak. Namun biasanya gejolak seperti ini akan mereda setelah reaksi awal,” kata Matthew Haupt, manajer portofolio di Wilson Asset Management, Jumat (13/6/2025).
“Yang kini menjadi sorotan adalah seberapa cepat dan besar respons dari Teheran, karena hal itu akan menentukan berapa lama ketidakstabilan ini berlangsung.” ujarnya.
Sebelum serangan berlangsung, media telah melaporkan kemungkinan aksi militer Israel terhadap Iran. Presiden AS Donald Trump bahkan sempat menyebut bahwa Israel “sangat mungkin” menyerang Iran, meski ia menyatakan telah menyarankan agar langkah tersebut ditunda selama proses diplomasi masih berlangsung.
Israel sendiri masih terlibat dalam operasi militer besar-besaran di Gaza yang telah berlangsung selama 20 bulan, sebagai respons atas serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 lalu. Serangan itu telah memicu blokade dan gempuran intensif ke wilayah sipil di Gaza.
“Berita serangan udara Israel ke Iran memunculkan kembali premi risiko geopolitik,” kata Charu Chanana, Kepala Strategi Investasi di Saxo Markets.
Ia mengatakan bahwa setiap sinyal balasan dari Iran atau potensi gangguan suplai energi akan mendorong volatilitas dan menjaga tren penguatan pada minyak serta aset safe haven.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memastikan bahwa pemerintah AS tidak terlibat dalam serangan militer tersebut. Ia menyebut langkah yang diambil Israel merupakan keputusan sepihak di luar koordinasi dengan Washington.
(bbn)

























