Logo Bloomberg Technoz

Di Jerman, misalnya. Bloomberg News memberitakan, angin yang melimpah membuat harga energi turun. Bukan sembarang turun, bahkan sampai minus alias negatif.

Akhir pekan lalu, harga listrik di Jerman negatif selama 7 jam. Terendah ada di minus EUR 13,17/MWh.

Selama Mei, rata-rata harga energi berada di zona negatif selama 4 jam per hari. Lebih banyak 45% ketimbang April.

Bagi sebagian konsumen, mereka yang menggunakan listrik pada jam di mana harga energi negatif maka justru dibayar, tidak perlu membayar. Meski begitu, tagihan bulanan tidak akan banyak berubah karena ada biaya transmisi, pajak, dan lain-lain.

Namun sebagian besar konsumen menggunakan kontrak dengan harga listrik tertentu yang sudah dipatok, jadi tidak terpengaruh oleh harga per jam.

Analisis Teknikal

Setelah naik pada Mei, bagaimana perkiraan harga batu bara untuk Juni? Apakah masih kuat menanjak atau justru terdepak?

Secara teknikal dengan perspektif bulanan (monthly time frame), batu bara masih terjebak di zona bearish. Terbukti dengan Relative Strength Index (RSI) yang sebesar 37. RSI di bawah 50 menunjukkan suatu aset sedang dalam posisi bearish.

Namun indikator Stochastic RSI sudah menyentuh 11. Cukup jauh di bawah 20, yang berarti sangat jenuh jual (oversold).

Adapun indikator Average True Range (ATR) 14 hari ada di 9. Artinya, volatilitas harga batu bara sepertinya minim saja.

Bulan ini, ada potensi harga batu bara bisa naik lagi. Target resisten terdekat adalah US$ 122/ton yang merupakan Moving Average (MA) 10. Jika tertembus, maka MA-20 di US$ 128/ton bisa menjadi target berikutnya.

Target paling optimistis ada di US$ 141/ton yang menjadi MA-100.

Sedangkan pivot point ada di US$ 98/ton. Penembusan di titik ini berisiko memangkas harga batu bara ke rentang US$ 96-91/ton.

Target paling pesimistis adalah US$ 83/ton.

(aji)

No more pages