Di sisi lain, konsumsi pemerintah akan difokuskan pada program-program produktif yang mendorong kualitas sumber daya manusia (SDM), seperti pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan dan energi, termasuk melalui implementasi program MBG.
Kinerja ekspor juga didorong melalui berbagai kebijakan di antaranya, melalui strategi hilirisasi industri, diversifikasi produk, serta perluasan pasar ekspor ke berbagai negara (trade diversion dan trade creation). Sementara itu, akselerasi investasi akan terus diperkuat dengan pemerataan pembangunan infrastruktur, optimalisasi melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, serta penciptaan iklim usaha yang makin kondusif.
"Transformasi ekonomi menuju sektor-sektor bernilai tambah tinggi, berorientasi pada keberlanjutan dan rendah emisi, akan menjadi kunci dalam meningkatkan daya saing nasional di tengah dinamika global," sebagaimana dikutip melalui dokumen KEM-PPKF.
Meski demikian, risiko eksternal seperti ketegangan geopolitik dan melemahnya permintaan global tetap perlu diantisipasi melalui kebijakan yang adaptif, responsif, serta berorientasi jangka panjang.
Berikut Asumsi Dasar Ekonomi Makro dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF):
- Pertumbuhan ekonomi: 5,2%-5,8%
- Suku Bunga Surat Berharga Negara 10 Tahun: 6,6%-7,2%
- Nilai tukar: Rp16.500-Rp16.900/US$
- Inflasi: 1,5%-3,5%
- Harga minyak mentah Indonesia/Indonesia Crude Oil Price (ICP): US$60-US$80/barel
- Lifting minyak mentah: 600-605 ribu barel per hari (rbph)
- Lifting gas bumi: 953-1.017 ribu barel setara minyak per hari (rbsmph)
- Tingkat pengangguran terbuka: 4,44%-4,96%
- Rasio gini: 0,377-0,380
- Tingkat kemiskinan ekstrem: 0%
- Tingkat kemiskinan: 6,5%-7,5%
- Indeks modal manusia: 0,57
(dov/wep)




























