“Industri pengolahan kobalt di Indonesia memang belum berkembang seperti halnya nikel. Sebagian besar kobalt masih dijadikan sebagai [komoditas] ikutan bijih nikel,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, Bisman pun menyangsikan Indonesia dapat memperoleh keuntungan untuk mengisi pasar yang ditinggalkan oleh kobalt asal Kongo di industri baterai global. Harga kobalt, padahal, sedang bagus.
“Jadi ini momentum dan peluang pasar bagi Indonesia. Sayangnya, Indonesia belum sepenuhnya siap dan maksimal untuk mengisi pasar yang kosong ditinggal Kongo,” ujarnya.
Bisman menambahkan pangsa pasar ekspor kobalt asal Indonesia selama ini masih sama dengan nikel, yaitu ke China, lantaran kobalt masih dikategorikan sebagai mineral ikutan dalam komoditas nikel.
Moratorium Kongo
Di tingkat global, Kongo berencana melanjutkan larangan ekspor kobalt sehingga berpotensi membuat harga logam tersebut melonjak dan menyebabkan produsen baterai global mencari alternatif.
Harga kobalt telah melonjak lebih dari 50% sejak negara Afrika yang bertanggung jawab atas tiga perempat produksi global itu menghentikan ekspor pada 22 Februari.
Perpanjangan larangan atau kuota yang ketat dapat mendorong harga lebih tinggi lagi, kata Benchmark Mineral Intelligence pada Rabu (14/5/2025) dalam sebuah laporan yang disiapkan untuk Cobalt Institute.
“Pemerintah DRC telah mengindikasikan bahwa kontrol ekspor lebih lanjut, termasuk perpanjangan larangan, atau kuota, akan menyusul,” kata Benchmark.
Tidak seperti logam baterai lainnya seperti nikel dan litium yang ditambang secara mandiri, kobalt sebagian besar diproduksi sebagai produk sampingan dari tambang tembaga di DRC dan tambang nikel di Indonesia.
Kongo memoratorium ekspor kobalt selama empat bulan pada Februari setelah harga jatuh ke posisi terendah dalam sejarah akibat meningkatnya produksi oleh CMOC Group Ltd dari China di dua operasinya di negara tersebut.
Permintaan logam tersebut, yang juga digunakan dalam paduan super dan aplikasi pertahanan, tumbuh 12% tahun lalu dan tetap kuat, kata Benchmark.
Namun, laporan tersebut menguraikan keseimbangan yang rumit antara pembuat kebijakan, penambang, dan produsen saat mereka berupaya mengamankan bahan baku utama.
Banyak pembuat kendaraan listrik China telah beralih ke baterai litium besi fosfat atau lithium ferro phosphate (LFP) yang tidak mengandung kobalt. Pasar EV menyumbang 43% dari permintaan kobalt pada tahun 2024.
Pengendalian produksi kobalt rumit di Kongo karena hubungannya dengan tembaga. Harga logam tersebut mencapai titik tertinggi dalam sejarah tahun lalu, memacu peningkatan produksi.
Akibatnya, CMOC memproduksi 31% lebih banyak dari kapasitas kobalt yang dinyatakan di tambangnya, menurut laporan tersebut.
Glencore Plc dan Eurasian Resources Group merupakan produsen kobalt terbesar kedua dan ketiga di negara tersebut.
Indonesia menyumbang 12% dari pasokan global tahun lalu dan diperkirakan akan mencapai 22% pada 2030, kata Benchmark.
Kobalt telah menjadi titik api dalam perebutan mineral-mineral penting di dunia. China memurnikan 79% logam tersebut, sedangkan Finlandia di posisi kedua hanya menyumbang 7% tahun lalu, kata Benchmark.
AS sedang berunding dengan Kongo tentang pengamanan akses ke mineral-mineral penting termasuk kobalt dengan imbalan bantuan keamanan.
“Mengingat dominasi China di seluruh rantai pasokan kobalt dan bagian-bagian penting dari rantai nilai baterai, diversifikasi pasokan dan pengurangan risiko dari China merupakan salah satu pendorong geopolitik utama,” menurut laporan tersebut.
(mfd/wdh)






























