Pada awal Mei jalinan kemitraan IBC-CATL dikabarkan tengah mencari pendanaan US$1 miliar dalam upaya pembangunan pabrik di Karawang, Jawa Barat. Ambisi mewujudkan ekosistem pabrik sel baterai ini dikenal sebaga Proyek Dragon.
Pihak dari China melalui Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co Ltd (CBL), usaha patungan bersama dengan Brunp dan Lygend. Dua perusahaan yang disebut terakhir diketahui punya keahlian pada pembuatan bahan baku baterai setrum. Sementara itu, IBC menjadi perwakilan dari sejumlah BUMN yang mengambil bagian pada rencana investasi konsorsium CBL tersebut.
Sebelumnya juga diketahui bahwa IBC bersama dengan konsorsium CBL telah menandantangani sejumlah usaha patungan atau joint venture (JV) pada beberapa tahap bisnis mulai dari sisi hulu atau upstream tambang, antara atau midstream, sampai hilir atau downstream berupa pabrik sel baterai.
Di sisi hulu, terbentuk 3 usaha patungan di antaranya PT Sumber Daya Arindo (SDA), yang mengelola tambang nikel. Antam memegang 51% saham sementara sisanya dipegang afiliasi CBL, Hongkong CBL Limited (HKCBL). Selanjutnya, usaha patungan di sisi rotary kiln electric furnace (RKEF) dan kawasan industri lewat PT Feni Haltim (PFT), dengan porsi saham Antam 40%.
Sementara itu, Antam memegang saham 30% untuk usaha patungan pabrik hidrometalurgi atau high pressure acid leach (HPAL). Selanjutnya, usaha patungan lainnya dikerjakan IBC bersama dengan CBL meliputi bahan baku baterai, perakitan sel baterai hingga daur ulang. IBC cenderung memiliki saham minoritas pada lini kerja sama midstream sampai hilir ini.
IBC memegang saham 30% untuk proyek pengolahan bahan baku baterai dan perakitan sel baterai. Sementara itu, IBC mendapat bagian 40% saham untuk usaha patungan di sisi daur ulang baterai. Sebelum menggandeng grup CATL, IBC sempat bermitra dengan LG Energy Solution (LGES).
(naw/wep)





























