Bhima menilai, pemerintah juga tetap perlu waspada masuknya barang impor asal China, Vietnam dan Kamboja ke Indonesia dalam masa jeda negosiasi. Pemicu PHK sektor padat karya Indonesia bisa lebih disebabkan persaingan barang impor dibandingkan dengan sulitnya ekspor ke pasar AS.
Di sisi lain, Bhima juga mengatakan meredanya perang tarif antara AS-China memberikan sentimen positif bagi ekonomi Indonesia melalui dua hal. Pertama, harga komoditas unggulan ekspor Indonesia diperkirakan berlangsung pulih sejalan dengan meningkatnya permintaan industri di China, menopang kinerja ekspor Indonesia secara umum.
Kedua, pelemahan kurs rupiah cenderung tertahan, membuat efek imported inflation atau meningkatnya harga barang impor bisa lebih kecil. Cadangan devisa juga tidak terlalu banyak terkuras untuk intervensi rupiah.
Pagi ini, rupiah spot dibuka melemah 0,21% di level Rp16.550/US$ dan selanjutnya bergerak makin turun nilainya di Rp16.580/US$.
Bhima menilai Indonesia harus lebih agresif melakukan lobi terhadap AS dengan menggunakan pembaruan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) Freeport, dan relaksasi ekspor bijih konsentrat tembaga yang sedang dinikmati Freeport.
"Isu Laut China Selatan sebaiknya masuk ke meja negosiasi juga untuk tekan posisi AS agar memberikan tarif lebih rendah dari China. Sejauh ini ada kekhawatiran tarif Indonesia tetap lebih tinggi dari China yang sebesar 30%," ujarnya.
Kemajuan substansial telah dicapai dalam pembicaraan dua hari antara Amerika Serikat dan Tiongkok perihal kemelut perdagangan mereka yang memanas sejak April lalu.
Dua negara ekonomi raksasa itu sepakat untuk menurunkan tingkat tarif yang dikenakan satu sama lain untuk sementara, selama 90 hari ke depan.
(dov/roy)






























