“Banyak analis dari institusi keuangan internasional juga belum berani terlalu optimis di sesi awal gencatan tarif ini. Macquarie bahkan menyebut kesepakatan dagang terbaru AS-China sebagai langkah taktis yang disepakati bersama, bukan perdamaian jangka panjang,” ungkapnya.
Selain itu, meski risiko sistemik dari perang dagang mereda dan seharusnya menciptakan ruang bagi aliran dana asing masuk ke pasar negara berkembang seperti Indonesia, data menunjukkan tren yang berbeda.
Per akhir pekan lalu, investor asing tercatat masih membukukan jual bersih (net sell) sebesar Rp54 triliun sepanjang tahun berjalan. Hal ini menunjukkan bahwa pasar Indonesia belum mendapatkan suntikan dana segar yang signifikan dari investor global, meskipun aset-aset berdenominasi dolar sempat dilepas.
Di sisi lain, Kiwoom melihat potensi IHSG kalah sentimen dibanding pasar saham China dan AS. Hal ini karena proyeksi ekonomi kedua negara tersebut justru meningkat pasca kesepakatan tarif. Goldman Sachs menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS untuk kuartal keempat menjadi 1%, dari sebelumnya 0,5%, dan menurunkan risiko resesi dalam 12 bulan ke depan menjadi 35%.
Morgan Stanley juga mencatat hedge fund berbasis AS meningkatkan eksposurnya pada saham-saham China seiring harapan bahwa pembicaraan dagang akan berlanjut ke arah positif. Valuasi indeks saham China seperti CSI 300 juga kompetitif, dengan P/E ratio 12,64x—tak jauh dari IHSG yang berada di 13,33x—sehingga bisa menjadi pesaing utama dalam perebutan arus modal global.
Meski begitu, Kiwoom tetap melihat celah peluang bagi pasar domestik, terutama dari sektor berbasis komoditas. Dengan proyeksi ekonomi AS dan China yang membaik, permintaan global terhadap komoditas utama Indonesia bisa terdorong, memberikan efek positif terhadap sektor saham terkait yang merupakan tulang punggung IHSG.
“Karakteristik market kita adalah commodity-driven, sehingga kami masih melihat potensi ikut ‘kebagian kue’ dari geliat ekonomi dua negara tersebut,” jelas Liza.
Secara fundamental, valuasi IHSG dinilai masih cukup menarik, dengan PER forward di kisaran 13–14 kali, masih di bawah rata-rata lima tahun terakhir. Kinerja emiten juga tergolong solid di kuartal I-2025, dengan rata-rata pendapatan tumbuh 3,24% secara tahunan dan laba bersih naik signifikan sebesar 19,32%. Namun, dari sisi makroekonomi, sejumlah tantangan domestik masih membayangi pasar.
Cadangan devisa Indonesia per April 2025 tercatat turun ke US$152,5 miliar, pertumbuhan ekonomi kuartal I hanya mencapai 4,87% (lebih rendah dari ekspektasi 5%), dan tekanan pasar tenaga kerja semakin besar dengan lebih dari 35.000 klaim Jaminan Kehilangan Pekerjaan tercatat hingga Maret.
Di sisi fiskal, rasio pajak Indonesia juga anjlok ke 7,95% pada kuartal I, dibandingkan 9,77% pada periode yang sama tahun lalu, memperlihatkan adanya risiko dari sisi penerimaan negara.
Dengan kombinasi sentimen eksternal yang belum sepenuhnya solid dan tekanan domestik yang masih nyata, Kiwoom menyimpulkan bahwa penguatan IHSG bersifat sementara dan perlu dicermati dengan kewaspadaan tinggi.
(dhf)


























