Logo Bloomberg Technoz

Melihat pergerakan valuta regional pagi ini, tekanan pelemahan terlihat merata melanda yen, won Korsel, dolar Singapura, yuan offshore dan ringgit Malaysia. Sementara baht dan dolar Hong Kong masih menguat terhadap dolar AS.

Rupiah tidak cukup memiliki sokongan dari dalam negeri ketika arus keluar modal asing dari pasar saham masih belum terhenti sampai saat ini, mencapai Rp8,21 triliun kemarin hingga indeks ditutup di zona merah.

Sementara di pasar surat utang negara, pergerakan harga terlihat lebih baik pada perdagangan Rabu di mana tenor pendek turun 4,8 bps dan 10Y juga turun 1,8 bps pada sesi sore trading. 

Beberapa data ekonomi penting dijadwalkan rilis di Asia pada Kamis, termasuk data ketenagakerjaan Australia, keputusan suku bunga di Korea Selatan, serta data investasi langsung asing untuk China yang diperkirakan akan keluar sebelum Jumat.

Di Jepang, pejabat bank sentral Jepang atau Bank of Japan (BOJ), Junko Nakagawa, dijadwalkan menyampaikan pidato, sementara Bank Sentral Eropa akan mengumumkan keputusan suku bunganya.

Sedangkan dari dalam negeri, Bank Indonesia akan merilis Statistik Utang Luar Negeri (SULNI) terbaru yang akan memberikan gambaran posisi kesehatan utang Tanah Air.

Peringatan Powell

Bursa saham di AS kemarin malam ditutup melemah cukup dalam seiring dengan kekhawatiran yang meningkat di kalangan para pemodal global setelah mendengar pernyataan Powell serta laporan proyeksi terbaru perdagangan global oleh WTO.

Jerome Powell memperingatkan bahwa perang dagang dapat mengancam target bank sentral dalam hal lapangan kerja dan inflasi. Pernyataan itu menjadi sinyal kehati-hatian bank sentral terkait dinamika seputar kebijakan tarif Donald Trump, Presiden AS, membuyarkan harapan bahwa The Fed akan cepat bertindak meredakan kekhawatiran investor.

Sentimen risk off juga menguat setelah proyeksi perdagangan global direvisi oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), yang memperkirakan bahwa perdagangan global akan turun 0,2% pada 2025—hampir tiga poin persentase lebih rendah dibandingkan proyeksi tanpa adanya tarif baru

Tekanan pada saham AS juga datang dari pembatasan baru pemerintah terhadap ekspor cip Nvidia Corp ke China.

Pemerintahan Trump kembali mengerek tarif impor barang Tiongkok menjadi 245%, menaikkan lagi tensi perang dagang.

Kenaikan tarif ini dilakukan sebagai respons AS terhadap pembalasan dari Negara Tirai Bambu tersebut.

Tarif baru ini tercantum dalam perintah eksekutif yang menjelaskan tarif balasan yang diumumkan pada 2 April lalu.

Gedung Putih mengunggah lembar fakta perintah tersebut ke situs resminya pada Selasa (15/4/2025) malam waktu setempat.

"China sekarang menghadapi tarif impor ke Amerika Serikat sebesar 245% sebagai akibat dari tindakan pembalasannya," kata Gedung Putih.

(rui)

No more pages