“Jangan berharap dukungan pasar dari kebijakan moneter dalam waktu dekat,” ujar Adam Phillips, Managing Director untuk investasi di EP Wealth Advisors. “Jika Anda menunggu ‘Fed put’, Anda sebaiknya siap dengan harga eksekusi yang lebih rendah selama tekanan inflasi masih tinggi.”
Indeks dolar AS turun 0,7% pada Rabu karena investor memburu mata uang safe haven. Franc Swiss menguat dan yen Jepang naik ke level 141 per dolar—level tertinggi sejak September tahun lalu—sebelum stabil kembali pada Kamis pagi. Di pasar komoditas, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), acuan AS, naik pada Kamis pagi di Asia setelah menguat 1,9% sehari sebelumnya.
Trump mengatakan bahwa negosiator telah membuat “kemajuan besar” dalam pertemuan dengan delegasi Jepang pada Rabu, yang bertujuan untuk mencapai kesepakatan guna menghindari tarif lebih tinggi terhadap mitra dagang AS.
Beberapa data ekonomi penting dijadwalkan rilis di Asia pada Kamis, termasuk data ketenagakerjaan Australia, keputusan suku bunga di Korea Selatan, serta data investasi langsung asing untuk China yang diperkirakan akan keluar sebelum Jumat. Di Jepang, pejabat bank sentral Jepang atau Bank of Japan (BOJ), Junko Nakagawa, dijadwalkan menyampaikan pidato, sementara Bank Sentral Eropa akan mengumumkan keputusan suku bunganya.
Gubernur Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, pada Rabu menyuarakan pandangan serupa dengan Powell, menyatakan bahwa The Fed sebaiknya mempertahankan suku bunga sampai ada kejelasan lebih lanjut mengenai dampak tarif. Para pelaku pasar swap kini semakin yakin bahwa bank sentral akan memangkas suku bunga hingga satu poin penuh pada Januari mendatang.
“Ini tahun yang penuh harapan yang pupus—dimulai dari kekecewaan atas tarif, dan kini The Fed membiarkan investor dalam ketidakpastian,” ujar Michael Bailey, Direktur Riset di FBB Capital Partners. “Penolakan Powell terhadap pasar datang di saat yang buruk, apalagi sektor semikonduktor sedang mengguncang sentimen investor global.”
Saham Nvidia merosot 6,9% pada Rabu setelah perusahaan memperingatkan potensi kerugian hingga US$5,5 miliar akibat persediaan dan komitmen terhadap chip H20 pada kuartal berjalan. ASML Holding NV juga ikut menambah kekhawatiran dengan laporan pesanan yang lebih rendah dari perkiraan.
Pemerintah AS memberi tahu Nvidia pada Senin bahwa cip H20 akan membutuhkan lisensi khusus untuk diekspor ke China “untuk waktu yang tidak ditentukan.” Perusahaan mengatakan dalam pengajuan resminya bahwa aturan baru tersebut mencerminkan kekhawatiran pemerintah AS bahwa “produk tersebut dapat digunakan dalam atau dialihkan ke superkomputer di China.”
Volatilitas Meningkat
Sentimen pasar risiko juga tertekan oleh revisi proyeksi perdagangan global dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), yang memperkirakan bahwa perdagangan global akan turun 0,2% pada 2025—hampir tiga poin persentase lebih rendah dibandingkan proyeksi tanpa adanya tarif baru. China dikabarkan tengah mencari sosok yang tepat dan rasa hormat lebih dari pemerintahan Trump sebelum kembali ke meja perundingan.
“Meski kami memperkirakan pembicaraan dagang pada akhirnya akan membuahkan kemajuan, permainan saling gertak antara AS dan China tampaknya masih akan berlanjut dalam waktu dekat,” kata Solita Marcelli dari UBS Global Wealth Management.
Di sisi lain, data penjualan ritel AS untuk Maret naik 1,4%—tertinggi dalam dua tahun terakhir—karena warga AS berbelanja besar-besaran mulai dari mobil hingga elektronik menjelang pengumuman tarif Presiden Trump.
(bbn)






























