Kini, para pelaku pasar obligasi melihat hanya ada tiga kali penurunan sampai akhir tahun, lebih kecil dibanding perkiraan sebelumnya hingga empat kali.
Sementara itu, yield UST 30 tahun kembali turun setelah sebelumnya melonjak karena kekhawatiran bahwa kebijakan tarif akan memicu lagi inflasi yang mulai jinak. Imbal hasil obligasi jangka panjang turun sampai 4,7% setelah menyentuh 5,02%, tertinggi sejak 2023 lalu.
Kemelut ini meluas ke pasar Asia dengan yield obligasi Pemerintah Australia tenor pendek melonjak tertinggi dalam hampir tiga tahun pada hari Kamis, disusul oleh obligasi Pemerintah Jepang tenor benchmark yang juga merosot, sedangkan obligasi Selandia Baru mendatar dengan tajam.
Pergerakan obligasi dan kenaikan besar-besaran harga saham di AS serta pasar negara berkembang mencerminkan potensi prospek ekonomi yang lebih cerah. Bagi US Treasury, hal itu berarti pergeseran perihal obligasi jatuh tempo yang mana yang menyerap tekanan jual.
"Pasar obligasi pemerintah AS tidak menang karena risiko tradisional mendorong kenaikan imbal hasil, atau kekhawatiran risiko perang dagang mendorong kenaikan yield karena potensi penjualan asing berhenti," kata Zachary Griffiths, Kepala Strategi Investasi dan Makroekonomi di CreditSights.
Sampai saat ini, suasana di pasar Treasury masih suram di tengah pembicaraan bahwa investasi akan melepas obligasi yang memiliki leverage. Terkait itu, Trump dalam komentarnya hari Rabu sore mengakui kekhawatiran tersebut.
"Tadi malam saya melihat orang-orang mulai merasa sedikit mual. Saya menontonnya, tetapi jika Anda melihatnya sekarang, itu indah," katanya.
Lonjakan imbal hasil yang dimulai minggu ini sangat kontras dengan reli obligasi yang mendapatkan momentum setelah Trump mengumumkan tarif resiprokal pada 2 April.
Pergeseran imbal hasil terkonsentrasi pada UST tenor panjang. Sebagian mengindikasikan itu sebagai antisipasi bahwa tarif yang memicu perang dagang global bisa memantik inflasi. Namun, pada saat yang sama, kemerosotan pasar obligasi Pemerintah AS jadi semain kuat karena kerugian besar memicu eksodus dari taruhan favorit.
Secara khusus, banyak pedagang memposisikan Treasury untuk mengungguli swap suku bunga berdasarkan ekspektasi untuk perlakuan regulasi yang lebih menguntungkan di bawah Trump. Ketika perdagangan inflasi mengambil alih, perdagangan itu ditinggalkan dan mengarah pada keuntungan relatif historis untuk pertukaran.
Sean Simko, Kepala Global Manajemen Portofolio Pendapatan Tetap di SEI Investments Co., mengatakan, sikap lunak Trump hari ini memberi Federal Reserve lebih banyak waktu untuk memantau inflasi. "Ini adalah langkah yang optimistis. Waktu akan membuktikan apakah ini jeda atau apakah negosiasi positif telah terjadi, yang akan menurunkan biaya bisnis global," katanya.
Permintaan lelang
Kurang dari satu jam sebelum pernyataan Trump, lelang obligasi Treasury 10Y senilai US$ 39 miliar menarik permintaan yang baik, meski ada kekhawatiran oleh beberapa pihak di pasar bahwa kebijakannya dalam menghalangi minat investor asing.
Hal itu menyusul reaksi kurang bergairah dalam lelang UST-3Y pada Selasa yang menggambarkan latar belakang lebih cerah untuk lelang UST-30Y hari ini.
"Hal ini tentu saja meredakan bebwerapa kekhawatiran di pasar," kata Subadra Rajappa, Fixed Income Strategist di Societe Generale.
Nilai t ukar dolar tetap melemah pada hari setelah lelang dan penundaan tarif Trump. Aussie, real Brazil dan peso Meksiko menguat sedikitnya 3% terhadap dolar AS.
ETF Vanguard FTSE EM atau VWO, naik 6,5%, tertinggi sejak Maret 2022. "Fakta bahwa Trump mengabaikan dan menyesuaikan tarif meski bersifat sementara seharusnya memberi dorongan besar pada sentimen investor," kata Brendan McKenna, FX Strategist di Wells Fargo New York.
(bbn)




























