“Tiba-tiba berubah planning-nya. Bagaimana coba? Kacau kan? Dan itu kan membuat orang menjadi tidak percaya sama kita. Jadi sebelum membuat statement, pelajari dahulu matang-matang. Jangan-jangan nanti beberapa minggu kemudian [naik lagi menjadi] 1,5 juta bph, itu kan harus hati-hati. Itu diperhatikan oleh investor,” ujarnya.
Menurut Moshe, perubahan-perubahan rencana dalam tempo singkat di sektor migas membuat ketidakpastian bagi investor. Pemodal akan menilai Indonesia plin-plan dalam membuat perencanaan untuk proyek krusial seperti pembangunan kilang.
“Itu yang saya takutkan. Bayangkan kalau ada yang berminat, mau negosiasi, tiba-tiba berubah planning-nya. Itu sering terjadi. Sudah common. Indonesia terkenal dengan perubahan-perubahan seperti itu. Bagaimana investor mau percaya,” ujarnya.
Hal tersebut, kata Moshe, yang membuat banyak investor hulu migas yang pada akhirnya lebih memilih untuk menanamkan modal di negara lain yang dinilai lebih menawarkan kepastian perencanaan dan kebijakan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia awal pekan ini mengumumkan pemerintah menaikkan target kapasitas terpasang proyek kilang minyak raksasa baru di Indonesia menjadi 1 juta bph, dari rencana awal 500.000 bph.
Tidak hanya itu, proyek kilang—yang sebagian akan didanai oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) — itu juga mengalami perubahan lokasi dari rencana semula di Pulau Pemping, Provinsi Kepulauan Riau yang berdekatan dengan Singapura.
Bahlil menyebut perubahan rencana tersebut telah didiskusikan bersama Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas (ratas) terkait dengan hilirisasi pada Senin (10/3/2025), sebagai tindak lanjut dari pembahasan serupa yang digelar awal pekan lalu.
“Tadi kami melakukan rapat untuk membahas implementasi teknis, di mana salah satu yang kami bahas adalah fokus pada refinery,” ujarnya di kompleks Istana Negara seusai ratas tersebut, Senin malam.
“[Rencana] yang tadinya kita akan bangun kurang lebih sekitar 500.000 bph, karena kita impor sekitar 1 juta bph, [sehingga] tadi ada terjadi perubahan, akan kita banggun nanti [kapasitasnya kumulatifnya] 1 juta bph,” lanjut Bahlil.
Dia mengelaborasi perubahan rencana tersebut tidak hanya menyangkut kenaikan kapasitas terpasang dari kilang baru yang akan dibuat, tetapi juga lokasi yang disasar.
Tadinya, pemerintah berencana membangun satu kilang berkapasitas 500.000 bph, tetapi kini proyek tersebut akan disebar menjadi beberapa kilang yang dibangun di berbagai tempat, seperti di wilayah Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Papua
“Sehingga ini terjadi pemerataan,” tegas Bahlil, seraya memastikan bahwa secara simultan pemerintah tetap akan mengeksekusi rencana pembangunan fasilitas penyimpanan (storage) minyak berkapasitas 1 juta bph.
Senin pekan lalu, Bahlil pertama kali mengumumkan rencana pemerintah membangun kilang raksasa yang akan berdekatan dengan rencana proyek fasilitas stoarge minyak di Pulau Nipa, Provinsi Kepulauan Riau untuk Cadangan Penyangga Energi (CPE).
Bahlil mengutarakan pendanaan proyek kilang minyak baru akan itu berasal dari Danantara. Beberapa hari setelahnya, dia kembali mengonfirmasi pemerintah juga sedang mencari investor lain yang bisa mendanai proyek kilang raksasa itu.
Namun, Bahlil mengatakan akan jauh lebih baik bila PT Pertamina (Persero) berpartisipasi dalam pendanaan kilang raksasa tersebut.
"Sebagian [pendanaannya dari] Danantara, sebagian kita lagi mencari. Kalau memang Pertamina bisa ikut itu jauh lebih baik," ujar Bahlil saat ditemui di Komplek Istana Kepresidenan, Jumat (7/3/2025).
Kendati demikian, Bahlil belum menjelaskan dengan lengkap berapa porsi pembiayaan yang akan dilakukan masing-masing Danantara dan investor lain tersebut.
Saat ini, hampir 90% dari kapasitas pengolahan minyak di Indonesia dikuasai oleh kilang Pertamina dengan kumulatif kapasitas terpasang sebesar 1,03 juta bph. Pertamina mengoperasikan enam kilang, yaitu; Refinery Unit (RU) II Dumai, RU III Plaju, RU IV Cilacap, RU V Balikpapan, RU VI Balongan, dan RU VII Kasim.
-- Dengan asistensi Mis Fransiska Dewi
(wdh)





























