Di antara dampak sosial dan lingkungan dari penerbitan ESG Sukuk adalah akses energi bersih melalui pembangkit listrik tenaga panas bumi dengan jumlah penerima lebih dari 150 ribu rumah, akses air bersih ke hampir 30 ribu rumah dan melayani setidaknya 100 ribu orang.
Wakil Direktur Utama BSI Bob Tyasika Ananta mengatakan bahwa BSI terus berupaya mengintegrasikan aspek sosial dan keberlanjutan lingkungan dalam setiap lini bisnis dan operasionalnya. Komitmen ini sejalan dengan visi besar pemerintah dalam mewujudkan ekonomi hijau dan kemandirian bangsa, sekaligus mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada 2060.
“Komitmen ini terus kami jalankan sepanjang BSI melakukan kegiatan bisnis dan operasional. Termasuk salah satu wujudnya dapat terlihat pada beberapa insiatif hijau yang diluncurkan pada perayaan usia BSI ke-4,” ujar Bob.
Pada perayaan usianya yang ke-4, BSI telah meluncurkan Digital Carbon Tracking Initiative dan menjadikannya sebagai bank syariah pertama yang memiliki pencatatan dan perhitungan emisi karbon digital. Transformasi ini memungkinkan pemantauan jejak karbon yang lebih akurat dan menyeluruh di semua jaringan kantor BSI, menggantikan metode manual yang sebelumnya digunakan.
Digital Carbon Tracking dapat merekam data baseline emisi karbon yang dihasilkan dalam operasional perusahaan. Hal ini akan memudahkan BSI untuk melakukan penyusunan peta jalan [roadmap] mendukung komitmen pencapaian Net Zero Emission Indonesia.
"Kami berharap Digital Carbon Tracking dapat menjadi kontribusi positif terhadap upaya pengurangan emisi yang selanjutnya akan berdampak nyata pada kelestarian lingkungan,” ujarnya.
Dalam upaya mengurangi jejak karbon, BSI juga melakukan berbagai inisiatif, termasuk penanaman 50.000 pohon yang mampu menyerap 4.129 ton CO2e, serta pengelolaan 70 unit mesin Reverse Vending Machine (RVM) untuk mendaur ulang sampah botol plastik, yang berkontribusi terhadap pengurangan 235 ton CO2e.
Tidak hanya itu, BSI juga terus memperkuat operasional berkelanjutan dengan membangun Green Building Landmark BSI Aceh, memasang panel surya di beberapa outlet, memulai konversi kendaraan operasional melalui penyediaan 139 kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di seluruh Indonesia. Langkah ini merupakan bagian dari strategi BSI dalam mengurangi emisi karbon yang dapat berdampak pada lingkungan.
Bob menegaskan bahwa berbagai langkah yang telah diambil merupakan bagian dari strategi besar perseroan dalam mendukung transisi menuju ekonomi hijau.
“Sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, BSI tidak hanya berfokus pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga pada aspek keberlanjutan. ESG Sukuk, Digital Carbon Tracking, penyediaan kendaraan Listrik, dan semua insiatif lainnya adalah wujud nyata komitmen kami untuk menciptakan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat," imbuhnya.
Sejalan dengan berbagai inisiatif keberlanjutan yang dilakukan, ESG rating BSI pun mengalami peningkatan signifikan dari posisi sembilan ke posisi empat dalam daftar Global Islamic Bank versi Bloomberg. Ke depan BSI berharap dapat terus menghadirkan inovasi produk berkelanjutan yang dapat membawa manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
“Pencapaian ini semakin menegaskan peran BSI sebagai pemimpin dalam transformasi hijau di sektor keuangan syariah. Dengan langkah-langkah yang terus diperkuat, kami berkomitmen untuk mendukung pencapaian Net Zero Emission Indonesia di tahun 2060 serta mempercepat pertumbuhan ekonomi hijau di Indonesia” tutup Bob.
(tim)





























