Ekonomi China Q1-2026 Diprediksi Bangkit Meski Ada Perang Iran
News
15 April 2026 13:40

Bloomberg News
Bloomberg, Pertumbuhan ekonomi China diperkirakan kembali menguat pada kuartal pertama tahun 2026. Kondisi ini memberikan ruang bagi para pengambil kebijakan untuk memantau dampak perang Iran terhadap ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut sebelum memutuskan perlunya langkah stimulus.
Berdasarkan median prakiraan ekonom yang disurvei Bloomberg menjelang rilis data resmi hari Kamis (16/4), Produk Domestik Bruto (PDB) China diprediksi tumbuh 4,8% dibandingkan tahun lalu. Angka ini menunjukkan akselerasi dari pertumbuhan 4,5% pada kuartal terakhir 2025, yang merupakan catatan terlemah sejak negara tersebut melakukan reopening setelah Covid pada akhir 2022.
Perang antara AS-Israel melawan Iran sejauh ini dinilai hanya memberikan dampak terbatas pada aktivitas ekonomi China. Hal ini berkat langkah strategis Beijing dalam beberapa tahun terakhir untuk memperkuat ketahanan energi dan mengisolasi ekonominya dari guncangan global. Selain itu, tekanan deflasi selama bertahun-tahun telah meredam potensi lonjakan harga konsumen akibat kenaikan harga minyak mentah.
Namun, seiring impor produk teknologi tinggi melonjak pada Maret—sebagian didorong oleh lonjakan investasi kecerdasan buatan—surplus perdagangan barang menyusut hampir 5% pada kuartal pertama dibandingkan tahun sebelumnya dalam denominasi yuan. Meski hal ini dapat mengurangi dukungan dari ekspor bersih, permintaan global yang kuat terkait kecerdasan buatan membantu menahan tekanan eksternal terhadap perusahaan China di tengah konflik Timur Tengah yang mengganggu ekonomi global.































