Logo Bloomberg Technoz

Mengutip Bloomberg News, belanja dengan menggunakan kartu Visa pada kuartal I tahun fiskal yang berakhir 31 Desember 2022 adalah US$ 3,01 triliun (Rp 45.041,64 triliun). Sementara transaksi kartu MasterCard pada kuartal IV-2022 naik 11% menjadi US$ 1,73 triliun (Rp 25.887,72 triliun).

Jangan Tergantung Visa-MasterCard

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Maret lalu menyebut ada baiknya Indonesia tidak lagi bergantung kepada Visa dan MasterCard. Kepala Negara mengatakan apa yang terjadi kepada Rusia bisa menjadi pelajaran.

Serangan Rusia ke Ukraina membuat Amerika Serikat (AS) dan sekutunya menjatuhkan berbagai sanksi, termasuk isolasi ekonomi. Sanksi ini dipatuhi oleh berbagai perusahaan AS, termasuk Visa dan MasterCard.

Akibatnya, warga negara Rusia yang memiliki rekening perbankan tidak bisa menggunakan kartu debet atau kredit mereka yang berlogo Visa dan MasterCard. 

“Kita ingat sanksi AS ke Rusia. Visa dan MasterCard menjadi masalah,” ungkap Jokowi.

UnionPay dari China Mendunia

Selain Indonesia, ada negara lain yang juga membentuk sistem pembayaran sendiri agar tidak menggantungkan nasib kepada 2 raksasa Visa dan MasterCard. Salah satunya adalah China dengan memiliki UnionPay, yang mulai digunakan pada 2002.

Saat ini UnionPay sudah mengglobal. Kartu berlogo UnionPay bisa diterima di 181 negara.

Bahkan riset RBR menyebutkan nilai transaksi UnionPay sudah melampaui Visa dan Mastercard. Pada 2021, pangsa pasar (share) penggunaan UnionPay di seluruh dunia adalah 37%. Di atas Visa (32%) dan MasterCard (20%). 

“UnionPay, Visa, dan MasterCard menyumbang 89% dari pangsa pasar global,” sebut riset RBR.

Meski demikian, lanjut riset RBR, penggunaan UnionPay didominasi oleh transaksi domestik di China. Di luar China, pangsa pasar UnionPay hanya 0,5%.

“Pangsa pasar Visa dan MasterCard di luar China masing-masing adalah 50% dan 31%,” tulis riset RBR.

(aji)

No more pages