Logo Bloomberg Technoz

Nikel Terancam Balik Defisit Meski 107 RKAB Telah Direstui ESDM

Dovana Hasiana
21 March 2024 11:30

Tambang nikel di Australia Barat../Bloomberg-Ron D'Raine
Tambang nikel di Australia Barat../Bloomberg-Ron D'Raine

Bloomberg Technoz, Jakarta - Sebanyak 107 rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) pertambangan nikel, yang direstui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) hingga Maret, dinilai belum cukup untuk mencegah potensi defisit pasok nikel pada 2024.

Ketua Perhimpunan Ahli Pertambangan (Perhapi) Rizal Kasli mengatakan kebutuhan nikel untuk smelter yang sudah beroperasi di Tanaah Air adalah sekitar 200 juta ton, sedangkan total kapasitas produksi dari 107 RKAB nikel yang disetujui hanya 152,61 juta ton untuk periode 2024—2026.

“Jika hanya 152,6 juta ton saja kuota yang disetujui, maka justru sebaliknya, pasar nikel akan defisit karena smelter kekurangan bahan baku bijih nikel. Dapat diperkirakan suplai nikel akan mengalami defisit dan dampaknya harga nikel akan bergerak naik lagi,” ujar Rizal kepada Bloomberg Technoz, Kamis (21/3/2024).

Sebuah truk di tambang nikel terbuka Tim King Pit Wilayah Barat NL di Spotted Quoll, di Forrestania, Australia Barat./Bloomberg-Ron D'Raine


Australia Semringah

Sesuai dengan hukum ekonomi, keterbatasan pasokan bijih nikel tentu bakal menyebabkan harga nikel terkerek naik. Rizal mengatakan hal ini dapat memberikan dampak positif bagi penambang nikel di luar negeri seperti Australia dan New Caledonia.