Logo Bloomberg Technoz

Indonesia, sebagai negara yang juga kaya akan sumber daya potensi batu bara – sebagai mineral yang memiliki kandungan grafit – pun dinilai punya potensi untuk dikembangkan dalam ekosistem EV.

"NMC sama LFP itu sama untuk katoda, nah anodanya itu pakai grafit itu. Berarti kita tidak usah impor," ujar Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Pengembangan Industri Sektor ESDM  Agus Tjahajana saat ditemui belum lama ini.

Bahkan, pada 2021, Kementerian ESDM melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara (TekMIRA) belakangan telah menginisiasi  penelitian anoda baterai dari grafit tersebut.

Penelitian itu sejalan dengan program pemerintah dalam hilirisasi batu bara menjadi bahan baku grafit sintetik yang diklaim bernilai tinggi.

Namun, sayangnya, TekMIRA mengatakan, biaya proses pembuatan grafit sintetik secara konvensional dari minyak bumi masih mahal, mencapai 10 kali biaya pengolahan grafit alam.  Selain dari batu bara, proses pembuatan grafit sintetik juga dicampur dengan grafit alam olahan atau spherical graphite.

Batu bara di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara./Bloomberg-Dimas Ardian

Pada prinsipnya, grafit sintetik dapat disintesa dari segala jenis material karbon seperti biomassa, jelaga, arang dan limbah industri, asalkan memiliki media katalis yang cocok dan jaminan ketersedian pasokan.

Jika dibandingkan dengan biomassa, kandungan karbon tetap (fixed carbon) pada batu bara rata-rata 2—3 kali biomassa. Hal ini yang mendasari pemilihan batu bara dan turunannya sebagai prekursor karbon yang ekonomis. Makin tinggi kandungan karbon tentu berdampak pada makin baiknya keekonomian proses grafitisasi.

Menyitir dokumen roadmap pengembangan batu bara 2021—2045, Kementerian ESDM mencatat, nilai keekonomian grafit sintetik ini setara dengan 100 kali harga batu bara atau setara dengan 350 kali harga batu bara.

Sebagai contoh, Coal Tar Pitch (CTP) — residu hasil distilasi tar, sebagai produk samping dari proses pirolisis seperti proses pembuatan kokas dan gasifikasi — yang memiliki nilai ekonomi rata-rata US$600 per metrik ton (MT), dapat ditingkatkan nilai keekonomiannya menjadi grafit sintetik yang bernilai hingga US$200.000/MT.

Baterai sodium-ion CATL./Bloomberg-Krisztian Bocsi


Baterai Garam Mulai Bertaji

Selain potensi grafit itu, beberapa perusahaan sekaligus sebagai produsen kendaraan listrik atau EV hingga kini terus mengupayakan berbagai inovasi pembuatan baterai, selain berbasis NMC dan LFP.

Mereka kini juga tengah mengembangkan baterai berbasis garam atau natrium-ion dan sodium-ion, yang dinilai lebih ekonomis dan memiliki keunggulan tersendiri.

Beberapa perusahaan itu yakni Raksasa produsen baterai China, Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL), Build Your Dreams (BYD), dan Anhui Jianghuai Automobile (JAC Motors).

(ibn/wdh)

No more pages