Logo Bloomberg Technoz

Suplai Saprolit Cekak, Moratorium Smelter Nikel Mendesak

Rezha Hadyan
01 March 2023 20:43

Ilustrasi pabrik feronikel (dok PT Aneka Tambang Persero)
Ilustrasi pabrik feronikel (dok PT Aneka Tambang Persero)

Bloomberg Technoz, Jakarta — Rencana Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memoratorium pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) nikel dinilai tepat untuk menjaga cadangan saprolit di Tanah Air.

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli berpendapat rencana tersebut tidak akan berdampak pada misi penghiliran industri nikel, yang sudah berjalan saat ini, termasuk rencana pengembangan fasilitas produksi baterai kendaraan listrik.

Terlebih, smelter nikel yang akan dibatasi pembangunannya hanya yang menggunakan teknologi rotary kiln electric furnance (RKEF) atau fero metalurgi. Pembatasan tersebut perlu dilakukan mengingat ketatnya cadangan nikel yang dimiliki oleh Indonesia.

Rizal menyebut smelter nikel RKEF yang sudah beroperasi di Indonesia saat ini mencapai 27 unit. Keseluruhannya membutuhkan setidaknya 81 juta ton bijih nikel dengan kadar tinggi (saprolit) setiap tahunnya.

Harus dijamin agar kelangsungan hidup dari smelter-smelter nikel tersebut tidak berumur pendek.

Rizal Kasli, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi)

Sebagai catatan, smelter RKEF menghasilkan feronikel sebagai bahan baku komoditas besi dan baja nirkarat. Adapun, untuk keperluan produksi baterai nikel, jenis yang dibutuhkan adalah nikel kadar rendah (limonit) yang diproses lewat smelter berteknologi high pressure acid leaching (HPAL).