Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan tersebut, PLN dan Pemerintah Australia mulai mengembangkan sejumlah agenda kolaborasi. Fokusnya meliputi penguatan infrastruktur ketenagalistrikan, pembiayaan proyek strategis, pengembangan teknologi, peningkatan ketahanan terhadap perubahan iklim, serta pengembangan kompetensi tenaga kerja.
Penguatan infrastruktur menjadi salah satu prioritas kerja sama. Kedua pihak menjajaki dukungan pembiayaan dari Export Finance Australia (EFA) untuk proyek Eastern Java & Bali Grid Strengthening.
Proyek tersebut ditujukan untuk meningkatkan keandalan jaringan dan pasokan listrik di wilayah Jawa Timur dan Bali. Pengembangannya mencakup pembangunan serta peningkatan kapasitas infrastruktur transmisi, gardu induk, hingga jaringan distribusi.
Penguatan jaringan di kedua wilayah tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas sistem kelistrikan. Infrastruktur yang memadai diperlukan untuk mengakomodasi kebutuhan listrik yang terus berkembang sekaligus mendukung integrasi sumber energi baru dan terbarukan (EBT).
PLN Jajaki Teknologi Baterai dan Fleksibilitas Jaringan
Selain infrastruktur fisik, kerja sama PLN dan Australia juga diarahkan pada pengembangan teknologi untuk meningkatkan fleksibilitas sistem ketenagalistrikan.
PLN membuka peluang kolaborasi teknis dengan sejumlah lembaga riset dan instansi pemerintah Australia. Mitra yang dijajaki antara lain Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) serta Department of Climate, Environment and Water.
Ruang lingkup pengembangan teknologi mencakup fleksibilitas jaringan, Battery Energy Storage System (BESS), dan fleksibilitas operasional pembangkit listrik.
Ketiga aspek tersebut memiliki peran penting dalam mendukung transformasi sistem energi. Pasalnya, peningkatan penggunaan pembangkit EBT, seperti tenaga surya dan angin, membutuhkan sistem kelistrikan yang mampu menyesuaikan pasokan dengan kondisi alam.
Berbeda dengan pembangkit berbahan bakar fosil yang dapat mengatur produksi listrik berdasarkan kebutuhan operasional, pembangkit EBT tertentu memiliki karakteristik produksi yang bergantung pada intensitas sinar matahari maupun kecepatan angin.
Karena itu, fleksibilitas jaringan dan teknologi penyimpanan energi menjadi komponen penting untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan listrik. Pengembangan BESS juga berpotensi membantu menyimpan energi ketika produksi berlebih dan menggunakannya kembali saat dibutuhkan.
Melalui kerja sama tersebut, PLN berupaya memperkuat kesiapan infrastruktur dan teknologi agar sistem ketenagalistrikan nasional mampu mengakomodasi peningkatan kapasitas pembangkit EBT.
Di sisi lain, aspek ketahanan terhadap perubahan iklim turut menjadi perhatian dalam kemitraan kedua negara. PLN bersama Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia atau Department of Foreign Affairs and Trade menjalankan program Capacity Building Skenario Iklim dan Ketahanan Sistem.
Program ini difokuskan pada peningkatan kemampuan PLN dalam menyusun keputusan berbasis skenario perubahan iklim atau climate-informed decision-making.
Pendekatan tersebut diperlukan untuk mengantisipasi berbagai risiko iklim yang dapat memengaruhi operasional infrastruktur ketenagalistrikan. Dengan kemampuan analisis yang lebih baik, perencanaan dan pengelolaan sistem diharapkan menjadi lebih adaptif terhadap perubahan kondisi lingkungan.
PLN Siapkan Peta Jalan Pengembangan SDM 2027-2030
Penguatan kapasitas sumber daya manusia juga menjadi bagian dari agenda utama kemitraan PLN dan Pemerintah Australia.
Melalui program Australia-Indonesia Climate and Sustainable Infrastructure Partnership (KINETIK), kedua pihak menyusun Three-Year Human Capital Development Roadmap untuk periode 2027-2030.
Peta jalan tersebut dirancang agar pengembangan kompetensi pegawai PLN sejalan dengan kebutuhan transformasi sektor ketenagalistrikan. Penyusunannya juga diselaraskan dengan target NZE, prioritas Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), serta prinsip Just Energy Transition.
Pengembangan SDM dinilai menjadi elemen penting dalam memastikan transformasi energi berjalan secara berkelanjutan. Perubahan teknologi dan struktur pasokan energi membutuhkan tenaga kerja yang memiliki kemampuan untuk mengelola sistem kelistrikan yang semakin kompleks.
Didi mengatakan, penguatan infrastruktur perlu dilakukan bersamaan dengan peningkatan kapasitas teknologi dan kualitas tenaga kerja. Menurut dia, pertukaran pengetahuan internasional dapat membantu PLN menyiapkan talenta yang mampu menjawab kebutuhan industri energi pada masa mendatang.
“Penguatan infrastruktur harus berjalan beriringan dengan pengembangan teknologi dan kualitas SDM. Melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman internasional, kami ingin menyiapkan talenta PLN yang mampu mengelola sistem ketenagalistrikan masa depan sekaligus menghadirkan solusi energi yang menjawab kebutuhan masyarakat,” imbuh Didi.
Dari pihak Australia, Duta Besar Australia untuk Indonesia Roderick Brazier menyambut positif penguatan hubungan kerja sama tersebut. Dia menilai PLN memiliki posisi strategis dalam mendukung agenda transisi energi Indonesia, terutama dalam pengembangan elektrifikasi dan infrastruktur ketenagalistrikan.
Menurut Brazier, kemitraan kedua negara tidak hanya memberikan manfaat bagi Indonesia, tetapi juga membuka ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman bagi Australia.
“Kami ingin menjadi bagian dari perjalanan transisi energi Indonesia dan memahami bahwa PLN akan memainkan peran sentral dalam elektrifikasi tersebut. Kemitraan ini juga bersifat timbal balik. Kami belajar banyak dari PLN dalam memahami lingkungan dan kebutuhan Indonesia, yang semakin memperkaya hubungan kedua negara,” ungkap Brazier.
Penguatan kemitraan ini mencerminkan upaya PLN memperluas akses terhadap teknologi, pendanaan, dan keahlian internasional untuk mendukung transformasi sektor ketenagalistrikan.
Di tengah kebutuhan investasi yang besar untuk pengembangan infrastruktur energi, kolaborasi dengan mitra internasional dapat menjadi salah satu alternatif dalam mempercepat realisasi proyek strategis.
Ke depan, sinergi PLN dan Pemerintah Australia diharapkan tidak hanya memperkuat keandalan pasokan listrik, tetapi juga meningkatkan kesiapan sistem dalam mengintegrasikan energi terbarukan.
Melalui pengembangan infrastruktur, teknologi penyimpanan energi, peningkatan kapasitas SDM, dan akses pembiayaan, kerja sama tersebut diarahkan untuk membangun sistem ketenagalistrikan Indonesia yang lebih tangguh, efisien, dan rendah emisi.
Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari persiapan jangka panjang Indonesia dalam mencapai target emisi nol bersih pada 2060, dengan memastikan transisi energi berjalan seiring kebutuhan pembangunan ekonomi dan pemerataan akses listrik nasional.
(tim)































